Ditulis oleh: Ismunanda Andira Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Pendidik menurut Buya Hamka adalah seseorang yang mampu menjadi teladan atau contoh yang baik untuk anak didiknya. Seorang pendidik tidak hanya mampu menjadikan anak didiknya baik di kognitif nya saja, melainkan juga orang yang mampu membuat anak didiknya menjadi orang yang baik secara akhlak serta kepribadiannya dan dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Letak keberadaan seorang pendidik bukan hanya sebagai transfer berbagai ilmu semata, melainkan juga ada tujuan lain yaitu membentuk karakter dan kepribadian peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai Islam yang ada. Buya Hamka membagi pendidik menjadi tiga bagian: 

  1. Orang Tua

Perkembangan pendidikan dan didikan pada anak sangat di pengaruhi dari kedua orang tuanya. Menurut Buya Hamka orang tua merupakan madrasah pertama dan utama, terutama seorang ibu. Menurutnya orang tua harus menjadi teladan yang baik, patut untuk di contoh oleh anak-anaknya dan orang tua mesti membiasakan anaknya untuk selalu berbuat kebaikan. Jika orang tua hanya memberikan arahan maupun perintah tanpa adanya contoh konkret nya, anak hanya akan mendengarkan nya saja tanpa tahu esensi dan urgensi yang sebenarnya. 

Menurut Hamka ada tiga tugas dan tanggung jawab orang tua sebagai pendidik kepada anaknya. Pertama, pada masa anak masih dalam susuan ibunya orang tua memiliki tugas untuk memberikan anaknya makanan yang sehat dan bergizi. kedua, ketika anak sudah mulai tumbuh akalnya, bisa dengan mempertanyakan segala hal dan lainnya orang tua hendaknya membuka akal tersebut dengan mengarahkannya dan selalu memberikan contoh-contoh yang baik. Ketiga, ketika anak sudah mulai dewasa, orang tua mesti mampu menjadi pendamping, mengontrol dan membiasakan anak nya kepada kebaikan entah itu dalam ranah ibadah, sosial dan lainnya. 

  1. Guru

Hamka mengatakan jika didikan di sekolah memiliki hubungan yang erat dengan didikan di rumah. Sekolah memiliki fungsi sebagi lembaga yang berusaha mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri peserta didik secara maksimal dan sesuai dengan perkembangannya baik dari segi jasmani maupun mental dan spiritual. Banyak kalangan masyarakat yang mengartikan bahwa pendidik hanya sekedar pengajar yang berguna untuk menambah pengetahuan. Hal ini sangat bertentangan dengan kewajiban seorang pendidik. Seorang pendidik bukan hanya soal mengajar saja tetapi juga soal mendidik demi mencapai pendidikan yang menyeluruh. 

Menurut Buya Hamka seorang pendidik yang ideal harus memenuhi syarat dan kewajiban sebagai berikut. 

  1. Berlaku adil tanpa harus melihat latar belakang anak didiknya.

  2. Berakhlak mulia, tanggung jawab, mampu menjauhkan diri dari sifat tercela dan dapat di jadikan sebagai teladan.

  3. Menyampaikan seluruh ilmu yang dimiliki dan memberikan pengetahuan maupun nasihat yang dapat di pakai di kehidupan sehari-hari. 

  4. Memberikan ruang kebebasan kepada peserta didik untuk berpikir, berkreasi, bependapat dan memberikan berbagai kesimpulan. 

  5. Menyampaikan ilmu yang sesuai dengan tempat dan waktu, sesuai dengan intelektual dan perkembangan jiwa mereka.

  6. Niatkan serta tujukan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT dan tidak mengharapkan upah, ketenaran dan lain sebagainya. 

  7. Menanamkan sifat keberanian kepada peserta didik dalam pengambilan keputusan, berani menyatakan berbagai perkara dan tidak takut akan kegagalan. 

 

  1. Masyarakat

Dalam proses pendidikan masyarakat memiliki posisi yang cukup signifikan karena manusia tidak akan lepas dari interaksi antar manusia yang lain dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Keberadaan masyarakat saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Masyarakat yang hidup dan sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama, memungkinkan terciptanya tatanan kehidupan yang damai. 

Menurut Hamka, akhlak yang dimiliki oleh peserta didik tercermin dari akhlak masyarakat tempat dimana mereka tinggal. Keberadaan masyarakat merupakan wadah yang memungkinkan untuk memperkaya pelaksanaan proses pendidikan. Setiap individu yang ada dalam masyarakat memiliki peran dan tanggung jawab moralnya masing-masing dalam proses pelaksanaan pendidikan yang efektif. Semua elemen yang ada di dalam masyarakat hendaknya saling bersinergi sebagai sarana untuk mengkontrol sosial terhadap pendidikan. Buya Hamka mengatakan bahwa peserta didik adalah bunga atau matahari yang dapat mekar dan bersinar yang memberikan wajah baru bagi masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu masyarakat harus menjaga dan melindunginya dari segala macam hal yang dapat menghalangi atau bahkan menghambat proses perkembanganny a.