CILEGON, HARIAN NEGERI - Pulau Sangiang menjadi ruang belajar yang tak biasa bagi puluhan orang muda Cilegon. Di pulau kecil yang hanya berjarak beberapa kilometer dari daratan itu, mereka tidak sekadar menyaksikan keindahan laut dan hutan tropis. Mereka berhadapan langsung dengan potret panjang konflik agraria, ketimpangan akses energi, hingga ancaman krisis iklim yang kian nyata.

Pemilihan Pulau Sangiang bukan tanpa alasan. Selama lebih dari tiga dekade, konflik agraria di pulau tersebut belum menemukan penyelesaian yang memberikan kepastian bagi warga. Konflik berkepanjangan itu berdampak pada terbatasnya pelayanan dasar. Fasilitas pendidikan dan kesehatan hilang, sementara jaringan listrik belum menjangkau seluruh kehidupan masyarakat.

Ironisnya, dari perbukitan Pulau Sangiang, cerobong-cerobong PLTU Suralaya tampak menjulang di seberang laut. Listrik diproduksi dalam skala besar, tetapi sebagian masyarakat yang hidup paling dekat justru belum menikmati akses energi yang layak. Kontras tersebut menjadi gambaran nyata mengenai persoalan keadilan energi di Banten.

Pelatihan bertema transisi energi itu mengajak peserta memahami bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu bumi. Dampaknya hadir dalam bentuk hilangnya ruang hidup, meningkatnya risiko tenggelamnya pulau-pulau kecil akibat kenaikan muka air laut, hingga memburuknya kualitas lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dani Setiawan dari Rhizoma Indonesia menilai generasi muda menghadapi ancaman yang semakin besar akibat ketergantungan terhadap energi fosil.

"Nasib generasi terus digerogoti oleh masifnya emisi yang dihasilkan dari ketergantungan pada energi fosil yang tetap diproduksi demi kepentingan oligarki. Dari ujung barat Pulau Jawa, orang muda Cilegon berupaya membangun cara pandang baru untuk menjaga kehidupan mereka dan keberlanjutan generasi setelahnya," kata DaniDani, Jumat 10 Juli 2026.

Menurutnya, pendidikan mengenai transisi energi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pelatihan semacam ini harus menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama kelompok yang selama ini paling merasakan dampak krisis iklim dan pencemaran lingkungan.

"Ini bukan sekadar sebuah kegiatan, melainkan investasi bagi kehidupan. Ketika kebijakan publik belum sepenuhnya berpihak pada keselamatan lingkungan dan masyarakat, penguatan kapasitas warga menjadi langkah penting untuk menjamin masa depan yang lebih berkelanjutan," ujarnya.

Sementara itu, Cholis dari WALHI Jakarta menekankan pentingnya membangun kemampuan advokasi di kalangan anak muda. Menurut dia, pemahaman mengenai transisi energi harus diikuti kemampuan mengawal kebijakan agar perubahan benar-benar berpihak kepada masyarakat yang selama ini menanggung beban pencemaran.

"Orang muda Cilegon perlu memahami strategi advokasi transisi energi, termasuk mengawal berbagai dampak kerusakan lingkungan dan polusi yang dirasakan masyarakat di sekitar kawasan industri dan pembangkit listrik," katanya.

Di tengah maraknya penggunaan istilah pembangunan berkelanjutan, Cholis mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak boleh berhenti sebagai slogan. Pembangunan, menurut dia, harus bertumpu pada keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi, bukan hanya mengejar pertumbuhan investasi.

Pelatihan tersebut juga menegaskan bahwa transisi energi yang berkeadilan tidak semata berbicara mengenai pergantian teknologi pembangkit. Lebih dari itu, transisi harus mampu menciptakan kemandirian energi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, menekan emisi gas rumah kaca, serta memastikan masyarakat menjadi pihak yang memperoleh manfaat terbesar dari perubahan tersebut.

Di akhir kegiatan, peserta menyampaikan seruan agar percepatan transisi energi di Cilegon dilakukan secara nyata. Mereka mendorong penghentian bertahap sumber-sumber emisi berbasis batu bara sebagai bagian dari upaya melindungi lingkungan dan menjamin masa depan generasi mendatang.

“Saatnya beralih. Pensiunkan sumber emisi Cilegon. Pensiunkan PLTU Suralaya demi keberlanjutan bumi.”

Menutup pelatihan tersebut, Founder Sekumpul Edu Creative, Mang Pram, mengingatkan bahwa orang muda Cilegon tidak cukup berhenti pada diskusi dan pelatihan. Menurut dia, transisi energi membutuhkan keberanian untuk mengambil sikap dan membangun aksi nyata di tengah derasnya ekspansi industri.

 "Lingkungan Industri dan pembangkit listrik sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Kalau generasi muda hanya menjadi penonton, mereka akan mewarisi krisis yang mereka tidak pernah ciptakan," katanya.

Ia menilai kepedulian terhadap lingkungan justru kerap terjebak pada kepentingan jangka pendek. Tidak sedikit pihak yang mengatasnamakan isu lingkungan hanya untuk mengakses program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), sementara persoalan mendasar seperti pencemaran, ketimpangan ruang hidup, dan ketergantungan pada energi fosil terus dibiarkan berlangsung. 

"Padahal kerusakan lingkungan yang ditinggalkan tidak serta-merta pulih. Beban ekologis itu justru akan diwariskan kepada masyarakat dalam bentuk hilangnya ruang hidup, memburuknya kesehatan, dan melemahnya kehidupan sosial, " pungkasnya.