HARIAN NEGERI - Tim Redaksi Harian Negeri telah melakukan penelusuran fakta mendalam terkait informasi yang beredar luas dengan judul '[SALAH] Keliru, Vaksin Sebabkan Radang Otak pada Bayi'. Berdasarkan pantauan kami, isu ini telah memicu beragam tanggapan dari netizen di berbagai platform media sosial. Hasil Pemeriksaan Fakta Setelah melakukan kroscek data dan memverifikasi sumber-sumber terkait, kami menemukan adanya ketidaksesuaian antara narasi yang beredar dengan fakta yang ada di lapangan.

Tim Redaksi berupaya menyajikan klarifikasi agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Dian Ulva,” (arsip) pada . Unggahan tersebut menampilkan gambar bayi yang tertutup gambar dengan tulisan, “Niatnya Vaksin Campak Tapi Malah Disuntik DPT, Bayi 9 Bulan di Bekasi Kejang Sampai Alami Radang Otak.” Pengunggah menambahkan narasi, “bayi RADANG OTAK gara-gara SALAH VAKSIN. Dian Ulva.” #gpt-inline3-passback{text-align:center;} Dalam keterangan unggahan juga dituliskan kronologi kejadian oleh pengunggah, “Kejadian memilukan menimpa seorang bayi berusia 9 bulan di wilayah Bekasi Barat.

#gpt-inline4-passback{text-align:center;} ​Sang ibu berinisial A mengungkapkan, anaknya mengalami kejang hebat hingga harus dirawat di ruang PICU akibat demam tinggi pasca-imunisasi di salah satu puskesmas. Dokter mendiagnosis sang bayi mengalami pembengkakan atau radang otak. ​Sang ibu membeberkan, awalnya ia datang untuk vaksin campak, namun petugas justru menyuntikkan vaksin DPT dengan alasan dosis ketiga belum lengkap—padahal catatan di Buku KIA mengklaim sudah lengkap.” Sampai artikel ini ditulis pada , unggahan tersebut telah mendapatkan 2 ribu likes, 637 komentar, dan 682 kali dibagikan.

Kolom komentar dipenuhi dengan tulisan pengalaman vaksin anak ibu-ibu lainnya dan beberapa orang menuliskan tidak mau memvaksin anaknya.

Salah Suntik Vaksin, Bayi di Bekasi Alami Radang Otak! Jadwalnya suntik campak, tapi petugas malah menyuntikkan vaksin DPT hingga d... Kesimpulan Berdasarkan seluruh bukti dan data yang dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa informasi tersebut masuk dalam kategori SALAH.

Narasi yang dibangun cenderung manipulatif dan tidak didukung oleh bukti otoritatif dari instansi terkait. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap penyebaran berita palsu atau hoaks. Selalu lakukan verifikasi mandiri dan hanya merujuk pada informasi resmi guna menghindari kerugian akibat disinformasi digital yang marak terjadi.


Rujukan Informasi: Lihat Data Sumber Asli