Penulis: Nur Cholifah
Menurut pandangan Ki Hajar Dewantara , ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia karena melalui ilmu seseorang dapat mengenal dirinya, memahami lingkungan sekitar, serta menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Namun, ilmu menurut beliau tidak hanya diartikan sebagai kumpulan pengetahuan atau teori yang diperoleh dari bangku sekolah. Ilmu harus mengandung nilai kemanusiaan dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, ilmu erat kaitannya dengan pendidikan serta pembentukan watak manusia. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa tujuan utama ilmu adalah memerdekakan manusia. Kemerdekaan yang dimaksud bukan sekadar kebebasan secara fisik, melainkan juga kebebasan dalam berpikir, menyampaikan pendapat, dan menentukan arah hidupnya sendiri. Manusia yang berilmu diharapkan mampu menjadi pribadi yang mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh kebodohan maupun penindasan. Dalam hal ini, pendidikan memiliki peran untuk membimbing manusia agar berkembang sesuai dengan potensi dan kodrat yang dimilikinya.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara lahir sebagai tanggapan terhadap sistem pendidikan kolonial pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, pendidikan hanya diperuntukkan bagi golongan tertentu dan lebih mengutamakan kepentingan pemerintah kolonial. Sistem tersebut lebih menekankan kepatuhan daripada kebebasan berpikir dan pengembangan kreativitas. Karena itu, Ki Hajar Dewantara menghendaki adanya pendidikan yang terbuka bagi seluruh rakyat tanpa membedakan status sosial, ekonomi, maupun latar belakang budaya. Menurut beliau, ilmu harus mampu membentuk manusia secara menyeluruh. Pendidikan tidak cukup hanya mengasah kemampuan intelektual, tetapi juga harus mengembangkan aspek moral, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik. Orang yang berilmu bukan hanya pandai secara akademik, melainkan juga memiliki sikap jujur, sopan, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama. Dengan demikian, ilmu seharusnya digunakan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan sejahtera, bukan untuk merugikan orang lain.
Dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara, pembentukan budi pekerti memiliki posisi yang sangat penting. Beliau berpendapat bahwa kecerdasan tanpa diimbangi moral dapat menimbulkan kesombongan dan penyalahgunaan ilmu. Oleh sebab itu, pendidikan harus menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini agar peserta didik mampu menggunakan ilmunya dengan bijak. Pembentukan karakter tersebut dapat dilakukan melalui pembiasaan perilaku baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Ki Hajar Dewantara juga menekankan besarnya peran guru dalam proses pendidikan. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi pelajaran, tetapi juga sebagai teladan bagi peserta didik. Seorang pendidik harus mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang baik agar dapat dicontoh oleh murid-muridnya. Pemikiran ini tercermin dalam semboyan beliau yang terkenal :
“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Semboyan tersebut mengandung arti bahwa seorang guru harus mampu menjadi contoh ketika berada di depan, membangun semangat saat berada di tengah peserta didik, dan memberikan dorongan dari belakang agar peserta didik mampu berkembang secara mandiri. Konsep ini menunjukkan bahwa hubungan antara guru dan murid seharusnya bersifat membina dan mengarahkan, bukan memaksa.
Selain itu, Ki Hajar Dewantara berpandangan bahwa ilmu harus tetap berpijak pada kebudayaan bangsa. Menurut beliau, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakatnya. Kemajuan ilmu pengetahuan memang penting, tetapi perkembangan tersebut tidak boleh membuat bangsa kehilangan identitasnya. Oleh karena itu, pendidikan harus menanamkan rasa cinta tanah air, menghargai tradisi, serta menjaga nilai-nilai luhur budaya Indonesia. Dalam pemikiran beliau, kebudayaan dan pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat. Pendidikan bukan hanya proses penyampaian ilmu pengetahuan, tetapi juga proses pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui pendidikan, generasi muda diharapkan mampu memahami dan melestarikan budaya bangsa tanpa menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan begitu, kemajuan yang dicapai tidak akan menghilangkan jati diri bangsa.
Ki Hajar Dewantara juga menekankan pentingnya keseimbangan antara teori dan praktik. Menurut beliau, ilmu yang dipelajari harus dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan tidak seharusnya hanya menghasilkan peserta didik yang pandai menghafal teori, tetapi juga mampu menyelesaikan masalah dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Oleh sebab itu, proses pembelajaran perlu melibatkan pengalaman nyata agar peserta didik dapat memahami manfaat ilmu secara langsung. Di era modern saat ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara masih sangat relevan dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi yang pesat memang memudahkan manusia memperoleh informasi, tetapi juga menimbulkan berbagai tantangan seperti menurunnya moralitas, kurangnya kepedulian sosial, dan penyalahgunaan ilmu pengetahuan. Dalam situasi seperti ini, konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara menjadi penting karena menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter.
Selain itu, sistem pendidikan modern sering kali lebih berfokus pada pencapaian akademik dibandingkan pembentukan kepribadian peserta didik. Banyak siswa dituntut meraih nilai tinggi, tetapi kurang mendapatkan pendidikan mengenai etika, moral, dan tanggung jawab sosial. Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang merdeka dan berbudi pekerti luhur. Oleh sebab itu, pendidikan tidak hanya harus mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki empati, rasa hormat, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Melalui gagasannya, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa ilmu seharusnya digunakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Ilmu tidak boleh hanya dimanfaatkan demi kepentingan pribadi atau keuntungan semata, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Dengan ilmu yang disertai moral dan karakter yang baik, manusia akan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan serta berkontribusi dalam membangun bangsa dan negara. Pemikiran Ki Hajar Dewantara mengenai ilmu memberikan pemahaman bahwa pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Pendidikan harus mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik agar menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, konsep ilmu menurut Ki Hajar Dewantara tetap menjadi dasar penting dalam menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.


Komentar