Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan bahwa generasi muda harus berperan aktif dalam menciptakan lapangan kerja di tengah tantangan ketenagakerjaan nasional, terutama tingginya peran sektor informal. Lebih dari 155 juta angkatan kerja saat ini berada di sektor informal, sementara jutaan lainnya belum terserap di pasar kerja. Hal ini mendorong perlunya peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia, khususnya di kalangan pemuda.
"Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari angka statistik, tetapi mampu menunjukkan kemampuan melalui tindakan nyata," ujarnya saat memberikan sambutan pada pelantikan Biru Muda Project di Jakarta, . Ia juga menyatakan bahwa kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi tantangan utama yang mempengaruhi penyerapan tenaga kerja. Transformasi menyeluruh dalam pembangunan sumber daya manusia diperlukan agar lebih adaptif terhadap perubahan.
Generasi muda didorong untuk tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja, tetapi juga menciptakan peluang melalui inovasi, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi. "Generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi melalui penciptaan peluang kerja baru, terutama di era digital," katanya. Afriansyah menambahkan bahwa penguatan ekosistem ketenagakerjaan terus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, serta media.
Kementerian Ketenagakerjaan pada 2026 menetapkan empat pilar strategis untuk mencapai tujuan tersebut. Keempat pilar tersebut mencakup penguatan pelatihan vokasi, pengembangan Talent and Innovation Hub (TIH), perluasan akses pelatihan termasuk bagi penyandang disabilitas, serta peningkatan produktivitas melalui Labor Productivity Clinics. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan pelaku ekonomi mandiri yang inovatif, termasuk di sektor ekonomi kreatif dan industri hijau.


Komentar