HARIAN NEGERI -
Praktik pembuangan sampah terbuka di kawasan wisata Pangalengan, Kabupaten Bandung, menjadi sorotan serius karena berpotensi merusak sektor pariwisata. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung mendesak perubahan sistem pengelolaan sampah untuk menjaga citra destinasi unggulan.
Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya agar tidak menimbulkan dampak negatif lebih lanjut, ungkap Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Bandung, Abdul Wahid Fauzy.DLH bersama pihak kecamatan telah melakukan peninjauan selama satu bulan terakhir untuk menilai dampak dan mencari solusi atas persoalan ini.
Keberadaan tempat pembuangan sampah memicu munculnya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di jalur utama menuju lokasi wisata, yang dapat mengurangi daya tarik wisatawan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, DLH melakukan restrukturisasi UPT Kebersihan dan mendorong kolaborasi lintas pihak.Pengelolaan sampah oleh pelaku usaha wisata di kawasan Rahong dan Cileunca juga disoroti karena belum terkoordinasi dengan baik. Banyak pengusaha wisata memilih cara praktis tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan.
Sampah yang dihasilkan objek wisata sering kali tidak dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS), melainkan hanya ditumpuk di lahan pribadi, yang memperburuk kondisi lingkungan di kawasan wisata.Keberlanjutan sektor pariwisata di Pangalengan sangat bergantung pada kelestarian lingkungan.
Pencemaran akibat sampah dapat langsung berdampak pada penurunan minat wisatawan. Oleh karena itu, upaya perbaikan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan sangat penting untuk menjaga daya tarik wisata Pangalengan.
(kus)


Komentar