HARIAN NEGERI - Tim Redaksi Harian Negeri telah melakukan penelusuran fakta mendalam terkait informasi yang beredar luas dengan judul '[SALAH] Ringgit Malaysia Ditolak di Luar Negeri saat Rupiah Menguat'. Berdasarkan pantauan kami, isu ini telah memicu beragam tanggapan dari netizen di berbagai platform media sosial.

Hasil Pemeriksaan Fakta

Setelah melakukan kroscek data dan memverifikasi sumber-sumber terkait, kami menemukan adanya ketidaksesuaian antara narasi yang beredar dengan fakta yang ada di lapangan. Tim Redaksi berupaya menyajikan klarifikasi agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.

Akun TikTok “Sadikinphonecell1” pada Jum’at, (26/01/2026) mengunggah video [arsip] yang memperlihatkan sejumlah kreator konten Malaysia seperti Syafirulizwan dan  Cikguqiqin yang membahas penolakan uang ringgit Malaysia di layanan penukaran uang di beberapa negara di Asia Tenggara. Unggahan itu disertai dengan narasi sebagai berikut:Apa jadinya kalau mata uang sebuah negara DITOLAK di negeri tetangga, sementara mata uang negara lain justru DIPAKAI BELANJA di Tanah Suci?Ini bukan gosip. Ini bukan drama. Ini FAKTA LAPANGAN.Wisatawan Malaysia gagal menukar Ringgit di Thailand & Filipina. Alasannya? Nilai dianggap tidak stabil dan berisiko. Money changer menolak. Dunia mulai ragu.Tapi di saat yang sama… Rupiah Indonesia justru diterima di Arab Saudi. Dipakai belanja. Disebut “uang Jokowi”. Tanpa perlu tukar ke riyal.Ini bukan soal kurs semata. Ini soal KEPERCAYAAN, KEDAULATAN EKONOMI, dan PERGESERAN KEKUATAN ASEAN.📌 Apa yang sebenarnya terjadi dengan Ringgit?📌 Kenapa Rupiah justru naik pamor?📌 Apakah ini tanda Malaysia mulai kehilangan kedaulatan ekonomi?Tonton sampai habis. Karena ini bukan cuma soal uang…Ini soal HARGA DIRI NEGARA.💬 Setuju atau tidak? Tulis pendapatmu d

Kesimpulan

Berdasarkan seluruh bukti dan data yang dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa informasi tersebut masuk dalam kategori SALAH. Narasi yang dibangun cenderung manipulatif dan tidak didukung oleh bukti otoritatif dari instansi terkait.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap penyebaran berita palsu atau hoaks. Selalu lakukan verifikasi mandiri dan hanya merujuk pada informasi resmi guna menghindari kerugian akibat disinformasi digital yang marak terjadi.


Rujukan Informasi: Lihat Data Sumber Asli