HARIAN NEGERI, Jawa Barat - Di tengah meningkatnya produksi sampah plastik nasional, pilihan jenis kemasan air minum menjadi perhatian. Galon guna ulang PET memberikan dampak lingkungan lebih rendah dibanding galon sekali pakai yang langsung menjadi limbah setelah digunakan. Hal ini merupakan salah satu upaya mengurangi sampah kemasan plastik dari produk air minum dalam kemasan dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan, kata Kapokja Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Ditjen Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular KLHK, Wisti Noviani Adnin.
Galon guna ulang dirancang untuk dipakai berulang kali sehingga menekan timbulan sampah plastik dan emisi karbon. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK mencatat sekitar 36 juta ton timbulan sampah pada 2024, dengan 19,59 persen diantaranya merupakan sampah plastik yang menyumbang tekanan besar terhadap TPA dan ekosistem lingkungan.
Pemanfaatan galon guna ulang berbahan PET dianggap memiliki keunggulan ekologis yang signifikan dibandingkan galon sekali pakai. Tanpa adanya galon guna ulang, tujuh dari sepuluh konsumen diperkirakan akan memilih kemasan sekali pakai yang berpotensi meningkatkan timbulan sampah plastik hingga 770.000 ton per tahun.
Akibatnya, emisi sampah plastik akan bertambah hingga 1.655.500 ton per tahun. Tingginya emisi sampah plastik dan karbon dari galon sekali pakai sangat bertentangan dengan prinsip keberlanjutan dan target pengurangan sampah plastik KLHK sebesar 30 persen pada 2025. Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan.
Pemakaian galon guna ulang juga dapat mengurangi jejak karbon dan efisiensi penggunaan sumber daya karena tidak perlu terus-menerus membuat kemasan baru. Galon guna ulang lebih direkomendasikan sebagai pilihan yang lebih berkelanjutan, terlebih, fungsi kemasan dimaksud yang bisa dipakai berulang kali selama bertahun-tahun tanpa perlu khawatir kerusakan galon asalkan dirawat sesuai dengan ketentuan.
Pakar Lingkungan Hidup Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Suprihatin mengungkapkan bahwa masa pakai galon tidak berpengaruh terhadap potensi migrasi Bisphenol A (BPA) dari galon guna ulang polikarbonat (PC) ke dalam air minum dalam kemasan (AMDK). Dengan peningkatan kesadaran konsumen akan pentingnya pemilihan kemasan yang ramah lingkungan, para pelaku industri berharap pergeseran dari kemasan sekali pakai menuju model guna ulang akan berkontribusi pada penurunan volume sampah plastik di Jawa Barat.


Komentar