HARIAN NEGERI, Jakarta – Psikiater Elvine Gunawan menyatakan bahwa perubahan suasana hati saat menstruasi merupakan hal yang umum terjadi pada perempuan. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai jika disertai gejala depresi berat hingga muncul pikiran untuk menyakiti diri.

Menurut Elvine, sebagian perempuan dapat mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD), yakni gangguan suasana hati yang lebih berat dibandingkan sindrom pramenstruasi (PMS) biasa.

“Kalau suasana hati jauh lebih depresif dibandingkan biasanya, bahkan sampai muncul ide menyakiti diri atau pesimisme yang ekstrem, itu bukan lagi kondisi normal dan perlu bantuan profesional,” ujarnya usai acara bincang-bincang memperingati Hari Kartini di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, fluktuasi hormon estrogen yang terlalu ekstrem dapat memengaruhi serotonin di otak, sehingga memicu gangguan suasana hati yang lebih berat pada sebagian perempuan. PMDD umumnya bersifat berulang dan muncul pada fase menjelang menstruasi, serta dapat memburuk jika tidak ditangani.

Elvine mendorong perempuan untuk lebih peka terhadap pola emosinya, salah satunya dengan mencatat siklus menstruasi dan perubahan suasana hati setiap bulan.

“Dengan mencatat, kita bisa mengetahui apakah respons emosi di masa tertentu lebih berat dibandingkan periode lain. Dari situ bisa dinilai apakah masih dalam batas wajar atau sudah mengarah ke gangguan,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar perempuan tidak ragu mencari bantuan ke tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater apabila kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, semakin cepat penanganan dilakukan, semakin besar peluang untuk mengendalikan gejala. Elvine menegaskan bahwa gangguan suasana hati terkait menstruasi bukan merupakan bentuk kelemahan, melainkan kondisi medis yang dapat ditangani secara profesional.