HARIAN NEGERI, Jakarta - Psikolog klinis dan keluarga lulusan Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada (UGM), Pritta Tyas M.Psi., menjelaskan bahwa aktivitas bermain anak memiliki tahapan yang berbeda sesuai usia dan perkembangan mereka. Pemahaman terhadap tahapan tersebut penting agar bermain tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Dalam sesi bincang-bincang di LEGO Playground, Grand Indonesia, Jakarta, Jumat, Pritta mengatakan konsep tahapan bermain tersebut merujuk pada pendekatan yang dikembangkan oleh dokter dan pendidik ternama, Maria Montessori.

"Sesungguhnya bermain itu ada tahapannya. Sampai usia delapan tahun, berdasarkan riset, anak-anak perlu bergerak setidaknya 180 menit setiap hari. Akan lebih baik jika aktivitas tersebut berupa olahraga atau aktivitas fisik yang aktif," kata Pritta.

Co-founder Bumi Nusantara Montessori itu menjelaskan bahwa pada usia dini, permainan yang paling dibutuhkan anak adalah permainan motorik, yaitu aktivitas yang melibatkan penggunaan tangan dan gerakan tubuh secara langsung.

Menurut Montessori, pengalaman yang diperoleh melalui aktivitas tangan akan lebih mudah tersimpan dalam memori dan mendukung perkembangan kemampuan kognitif anak.

Pritta menjelaskan bahwa hingga usia delapan tahun, fokus utama perkembangan anak adalah kebutuhan untuk bergerak dan mengeksplorasi lingkungan melalui aktivitas fisik. Karena itu, orang tua dianjurkan memberikan lebih banyak kesempatan kepada anak untuk bermain aktif dibandingkan menghabiskan waktu di depan layar.

Memasuki usia sembilan hingga 15 tahun, kebutuhan perkembangan anak mulai bergeser ke aspek sosial. Pada fase ini, keberadaan teman sebaya atau peers menjadi bagian penting dalam proses belajar dan pembentukan karakter.

Berbagai aktivitas seperti bermain bersama di luar ruangan, memasak, membuat kerajinan tangan, hingga permainan kelompok dinilai mampu melatih kemampuan kerja sama, komunikasi, dan keterampilan sosial anak.

"Anak laki-laki mungkin bermain bola, sementara anak perempuan bisa bermain peran, memasak bersama, atau aktivitas kreatif lainnya. Yang penting mereka memiliki interaksi dengan teman sebayanya. Teknologi digital juga boleh diperkenalkan, tetapi tetap harus dengan pendampingan orang dewasa," ujarnya.

Meski demikian, Pritta mengingatkan bahwa penggunaan perangkat digital dan permainan berbasis layar tetap perlu dibatasi. Ia menyarankan durasi bermain digital berkisar antara 60 hingga 90 menit per hari agar anak tetap memiliki waktu untuk berinteraksi dengan keluarga dan menjalani aktivitas lainnya.

Menurutnya, pembatasan tersebut juga penting untuk membangun kedisiplinan waktu sejak dini, termasuk membiasakan anak fokus saat makan bersama keluarga tanpa terganggu oleh permainan digital.

Lebih lanjut, Pritta menekankan bahwa peran orang tua bukan sekadar mengawasi, tetapi juga mendampingi anak dalam proses bermain dan belajar. Pendampingan yang tepat dapat membantu membangun resiliensi, rasa ingin tahu, serta kepercayaan diri anak.

Ia mengimbau para orang tua untuk memahami tahapan perkembangan anak sesuai usianya sehingga dapat menyediakan jenis permainan, waktu, dan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka.

"Terkadang anak hanya membutuhkan scaffolding atau dukungan yang tepat agar rasa ingin tahunya tetap tumbuh. Saat orang tua hadir mendampingi tanpa menghakimi, kita sedang menanamkan modal yang sangat berharga, yaitu kepercayaan diri bahwa mereka mampu belajar, mencoba, dan berkembang dengan caranya sendiri," kata Pritta.

Menurutnya, keterlibatan orang tua sebagai mitra eksplorasi anak dapat memperkuat ikatan emosional sekaligus mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan.