HARIAN NEGERI, Jakarta - Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, berhasil mengurangi hingga enam ton sampah per hari yang sebelumnya dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Keberhasilan ini merupakan hasil dari program 100 Persen Pilah Sampah yang melibatkan partisipasi aktif warga.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto, menyatakan bahwa dalam waktu sekitar 1,5 bulan sejak program dilaksanakan, terjadi penurunan signifikan dalam volume sampah yang dibuang ke TPST. Dari hampir 60 ribu jiwa di Rorotan, partisipasi rumah tangga dalam memilah sampah meningkat drastis dari hanya 5 persen menjadi lebih tinggi.
Edy menjelaskan bahwa tantangan utama pengelolaan sampah di Jakarta Utara adalah dominasi sampah organik. Dari total sekitar 1.300 ton sampah per hari, hampir separuhnya merupakan sampah organik yang belum tertangani dengan baik.
Untuk mengatasi masalah ini, pihaknya tidak hanya meningkatkan edukasi, tetapi juga memperkuat sarana dan prasarana. Upaya tersebut meliputi distribusi 410 unit tong drop point di tingkat RT, 11.982 ember pemilahan untuk rumah tangga, 93 unit timbangan gantung, 650 unit Lodong Sisa Dapur (losida), dan 12 unit tong komposter.
Baca Juga :
JNE Resmikan Kantor Cabang Utama di TasikmalayaSelain itu, teknologi pengolahan sampah juga diperkenalkan, seperti mesin pencacah dan bioreaktor untuk mempercepat proses penguraian sampah organik. Sistem pengelolaan sampah di Rorotan kini lebih terstruktur, di mana warga memilah sampah dari rumah dan mengumpulkannya di titik drop point.
Sampah organik yang terkumpul kemudian diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS) untuk diolah menjadi bubur sampah yang digunakan sebagai pakan ternak dan bahan budidaya maggot. Dalam sebulan, volume sampah organik yang berhasil dikelola mencapai 21 hingga 25 ton, yang tidak hanya mengurangi beban TPST Bantar Gebang tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular bagi masyarakat.
Pemerintah Kota Jakarta Utara berencana untuk mereplikasi keberhasilan program ini ke wilayah lain sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kader Gerakan Pilah Sampah (GPS) dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta melalui program CSR, turut mendukung keberhasilan ini.
Kader GPS RW 06, Juju (56), menyatakan dukungannya terhadap program ini dan mengungkapkan bahwa pemilahan sampah kini telah menjadi kebiasaan warga. Ia berharap program ini dapat terus berlanjut dan tidak kembali ke kebiasaan lama dalam membuang sampah tanpa pemilahan.


Komentar