Oleh: wijaya
Pendahuluan: Kisah yang Gak Bisa Dipisahin dari Amal
Akhir-akhir ini, saya lagi duduk-duduk sambil ngopi sambil mikir, sebenarnya sosok Kiai Ahmad Dahlan itu sosok yang unik banget, gak sih? Kalau kita buka-buka buku sejarah, kebanyakan filsuf tuh identik dengan buku tebal dan istilah-istilah yang bikin pusing. Tapi Kiai Dahlan beda. Saking gak banyaknya beliau nulis, sebagian orang malah sempet ragu, "Apakah Kiai Dahlan itu pemikir?".
Jujur, awal baca itu saya juga mikir, iya juga ya, beliau lebih terkenal action. Mendirikan
sekolah, rumah sakit, panti asuhan, organisasi sebesar Muhammadiyah. Tapi makin dalem saya baca, saya sadar, justru di situlah kejeniusannya. Beliau itu bukan tipe filsuf yang
duduk di menara gading. Beliau itu Man of Action yang setiap gerakannya sarat banget sama filosofi.
Baca Juga :
Pemikiran RA KartiniJadi di artikel ini, saya mau coba bahas pemikiran Kiai Dahlan yang jarang dibahas, yaitu "Tauhid Sosial" konsep yang mungkin gak pernah beliau sebutkan secara eksplisit di makalah, tapi itu adalah denyut nadi dari semua perjuangannya.
- Tauhid ItuGak Cuma"Laa IlahaIllallah"
Dulu, waktu saya kecil, ngaji tauhid itu biasanya cerita tentang Allah itu satu, gak boleh nyekutuin. Selesai. Tapi kalau melihat perjuangan Kiai Dahlan, tauhid itu beliau bongkar total. Seorang filsuf kontemporer, Moeslim Abdurrahman, bahkan menyebut Kiai Dahlan
sebagai "ilmuwan sosial profetik". Artinya, beliau membaca Al-Qur'an sambil melek sama kondisi sosial masyarakat jaman itu.
Waktu itu, tahun 1900-an, umat Islam lagi terpuruk. Banyak yang terbelenggu sama budaya sinkretisme (campur aduk sama Hindu-Budha) dan takhayul. Kiai Dahlan melihat itu bukan cuma masalah "salah ibadah", tapi itu masalah ketidakmampuan berpikir. Tauhid bagi
beliau bukan cuma mengakui Tuhan itu esa, tapi membebaskan akal manusia dari belenggu.
Beliau bilang gini lewat muridnya, KHR. Hadjid, tentang 7 Falsafahnya:
"Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersama-sama menggunakan akal pikirannya... mencari kebenaran sejati. Karena kalau hidup di dunia hanya sekali ini sampai selesai, akibatnya akan celaka dan sengsara selama-lamanya."
Nah, hayo hayo. Ini filosofi yang keras. Beliau mengkritik kebiasaan masyarakat yang "ndak berani memegang teguh pendirian karena khawatir terpisah dari teman" atau "hidup asal hidup". Jadi, dalam pandangan Kiai Dahlan, orang yang gak pake akal sehat dalam beragama, ya sama aja bunuh diri masa depan.
"Al-Ma'un":Antara Shalatdan NgurusinAnak Yatim
Salah satu "senjata" pamungkas Kiai Dahlan yang paling terkenal adalah Surat Al-Ma'un. Biasanya kita baca surat ini cuma di shalat, itu pun cepet-cepet. Tapi Kiai Dahlan hafal betul isinya. Beliau tidak bosan-bosan mengajarkan surat pendek ini.
Bayangin, jaman segitu, Kiai Dahlan bilang:
"Orang yang mendustakan agama itu adalah yang menghardik anak yatim dan tidak mau memberi makan orang miskin."
Ini pembalikan logika yang brutal. Jaman sekarang mungkin kita mikir "orang mendustakan agama" itu ya yang gak shalat atau yang murtad. Enggak, kata Kiai Dahlan, ukuran
"mendustakan"itu adalah ketidakpedulian sosial.
Dari sinilah lahir konsep yang saya sebut "Tauhid Aplikatif". Shalat itu penting, tapi kalau shalatnya gak bikin dia peduli sama tetangga yang kelaparan, ya shalatnya perlu
dievaluasi. Beliau ingin membangun kesadaran bahwa hubungan sama Allah (hablum minallah) itu harus langsung tercermin dalam hubungan sama manusia (hablum minannas). Gak bisa dipisah.
NolakJadi "Sekuler"Tapi JugaGak "Kaku"
Salah satu poin penting dari pemikiran Kiai Dahlan yang paling ngena di hati saya adalah tentang pendidikan dan modernitas. Di jaman di mana pesantren eksis di satu sisi dan sekolah Belanda eksis di sisi lain (dikotomis), Kiai Dahlan mbilang, "Mengapa mesti
dipisah?"
Beliau adalah bapak dari integrasi ilmu. Menurut saya, ini adalah lompatan filsafat yang
luar biasa maju. Beliau ingin melahirkan "Ulama-Intelek". Orang yang paham kitab kuning tapi juga pinter matematika, bahasa asing, dan ilmu kesehatan.
Coba bayangkan keberaniannya dulu. Beliau dianggap kafir karena berani masuk ke
sekolah Belanda, berani memakai metode klasikal (kursi, meja, papan tulis), bahkan berani bergaul dengan misionaris Kristen untuk belajar administrasi dan kedokteran. Tapi beliau punya prinsip Al-muhafadzatu 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (tetap berpegang pada tradisi yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).
Filosofinya sederhana: Kebenaran itu gak punya identitas. Kalau ilmu matematika itu benar dan bermanfaat dari Belanda, ya ambil. Karena Islam itu rahmatan lil alamin, gak cuma
milik orang-orang "kampung" yang anti perubahan.
RefleksiBuat Kita(Mahasiswa) Jaman Now
Jujur, setelah mumet-mumet mikirin tugas ini, saya jadi mikir relevansinya buat kita sekarang. Di jaman medsos dan generasi strawberry, pemikiran Kiai Dahlan ini panas banget.
Anti Sombong dan Angku (Poin 2 C 6): Dalam falsafahnya, beliau bilang banyak pemimpin yang belum berani ngurbanin harta dan jiwa, malah memperalat manusia
bodoh. Ini pas banget buat kritik kita ke para politikus atau pejabat kampus yang punya power tapi mikirin kantong sendiri. Kiai Dahlan ngajarin bahwa Kekuasaan itu amanah untuk membela kebenaran, bukan membela golongan.
JanganTakut Beda:Poin kelimabeliau menyindirorang yangtakut mengerjakan
kebenaran karena takut dijauhin temen. Jaman sekarang nih, takut banget "salah satu circle", takut gak keren. Filsafat Kiai Dahlan mengajarkan bahwa keberanian intelektual itu mahal. Kalau kita yakin sesuatu itu benar (setelah dikaji pake otak sehat), ya berdiri
tegaklah.
Action: Ini yang paling berat. Kiai Dahlan mengatakan bahwa pelajaran itu ada dua: teori dan amal, dan amal itu harus bertahap. Jangan cuma jago ngomong di linimasa doang. Gimana wujud nyata kepedulian kita? Mungkin ya seenggaknya share loker, bantu temen ngerjain skripsi, atau ikut kegiatan sosial. Itu wujud tauhid sosial.
Kesimpulan
Jadi, menurut saya pribadi, pemikiran filsafat Kiai Haji Ahmad Dahlan itu tidak tertulis rapi di buku tebal seperti Hegel atau Kant. Beliau menuliskan filsafatnya dengan tindakan nyata.
Beliau telah menggeser pusat pemikiran Islam dari sekadar ritualistik (fiqh) menuju pragmatis-transformative. Beliau membuktikan bahwa filsafat itu bukan cuma omong kosong, tapi bisa membangun rumah sakit, mendirikan sekolah, dan membebaskan bangsa dari kebodohan.


Komentar