HARIAN NEGERI, Jakarta - Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto berharap, dimulainya revitalisasi Pasar Gardu Asem di Jakarta Pusat dan Pasar Kramat Jaya di Jakarta Utara dapat menjadi contoh modernisasi pasar tradisional di ibu kota.

Revitalisasi tersebut ditandai dengan prosesi groundbreaking yang dilakukan Pemprov DKI sebagai bagian dari program modernisasi 153 pasar tradisional di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya.

"Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh modernisasi pasar tradisional yang diinginkan kita semua, terutama masyarakat Jakarta," ujar Wahyu, Senin (6/4).

Ia menegaskan, konsep pasar modern tidak harus identik dengan bangunan mewah, melainkan lebih menekankan pada kenyamanan, keamanan, serta kelengkapan fasilitas bagi pengunjung.

Wahyu juga mengingatkan, modernisasi pasar tidak cukup hanya melalui perbaikan fisik bangunan. Menurutnya, diperlukan komitmen bersama antara pengelola dan pedagang untuk menciptakan lingkungan pasar yang tertib, bersih, dan nyaman.

Ia juga mendorong penerapan sistem transaksi nontunai guna meningkatkan keamanan dan efisiensi dalam aktivitas perdagangan di pasar tradisional.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung resmi memulai revitalisasi Pasar Gardu Asem dan Pasar Kramat Jaya. Langkah ini merupakan komitmen Pemprov DKI dalam memodernisasi pasar tradisional dengan fokus pada transformasi fisik bangunan, serta penerapan sistem transaksi nontunai demi meningkatkan keamanan dan efisiensi ekonomi.

Proyek ini didanai melalui Penyertaan Modal Daerah (PMD) sebesar Rp10,2 miliar untuk Pasar Kramat Jaya dan Rp10,6 miliar untuk Pasar Gardu Asem. Revitalisasi ditargetkan rampung pada awal 2027 dengan fasilitas pendukung yang lengkap, mulai dari ruang laktasi hingga sarana olahraga.