HARIAN NEGERI, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang menjajaki kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kota Shenzhen, Tiongkok. Rencana ini diharapkan dapat dituangkan dalam Letter of Intent (LoI) sebagai langkah awal kerja sama sister city yang ditargetkan pada November 2026.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, bertemu dengan Executive Vice Mayor Shenzhen, Tao Yongxin, di Fuzhong 3rd Road, Shenzhen. Dalam pertemuan tersebut, Pramono menyatakan harapannya untuk menyusun LoI yang akan dilanjutkan dengan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua kota.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat hubungan internasional dan menjadi ruang berbagi praktik baik antarkota. Fokus utama adalah mendorong pembangunan yang lebih maju dan berkelanjutan, terutama dalam mengatasi masalah perkotaan.
Pramono menekankan bahwa Jakarta, dengan populasi sekitar 11 juta jiwa dan kawasan aglomerasi Jabodetabek yang mencapai 42 juta jiwa, menghadapi tantangan serupa yang pernah dialami Beijing. Ia berharap Shenzhen dapat menjadi role model dalam menangani masalah seperti kemacetan, polusi, dan banjir.
Tao Yongxin menyambut positif rencana kerja sama ini dan menawarkan empat bidang potensial untuk kolaborasi. Bidang tersebut mencakup teknologi dan inovasi, pertukaran mahasiswa dan budaya, serta sektor maritim.
Posisi strategis Indonesia dalam jalur maritim global menjadi nilai tambah bagi pengembangan kolaborasi ini. Tao juga menyoroti tantangan transportasi di Jakarta dan menyatakan kesiapan Shenzhen untuk berbagi pengalaman melalui kerja sama teknologi.
Shenzhen dikenal sebagai kota dengan kemajuan pesat di bidang teknologi dan smart city. Sejak ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus pada tahun 1980, kota ini telah bertransformasi menjadi pusat teknologi global dengan sejumlah perusahaan besar seperti Huawei dan BYD.


Komentar