HARIAN NEGERI, Jakarta - Ketua Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan Pelajar Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII), Wahyu Mukhtar Asafurla, menegaskan bahwa fenomena Serakahnomics praktik ekonomi yang didominasi keserakahan ekstrem segelintir elite merupakan ancaman nyata bagi keadilan sosial dan pengkhianatan terhadap konstitusi bangsa.

Dalam rangka Hari Raya Idul Adha 1447 H, Wahyu mengajak seluruh pelajar Indonesia untuk menjadikan momentum ini sebagai titik balik dalam mengawal kedaulatan ekonomi nasional yang berlandaskan pada Pasal 33 UUD 1945. Menurutnya, sistem yang hanya fokus pada akumulasi kekayaan pribadi tanpa memperdulikan penderitaan rakyat adalah antitesis dari mandat konstitusi yang mengamanatkan ekonomi sebagai usaha bersama atas asas kekeluargaan.

"Pasal 33 UUD 1945 secara tegas mengamanatkan agar kekayaan alam dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Serakahnomics yang mementingkan keuntungan segelintir pihak adalah bentuk pengingkaran terhadap semangat tersebut. Idul Adha adalah momentum etis, menyembelih hewan kurban bukan sekadar ritual, melainkan simbol menyembelih sifat tamak dan egoisme yang menjadi akar dari praktik ekonomi yang merusak ini," ujar Wahyu dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (27/5/2026).

Wahyu Mukhtar Asafurla menegaskan bahwa pelajar bukanlah sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang harus mengawal agar ekonomi bangsa tetap berada di koridor keadilan. Wahyu menekankan tiga poin aksi bagi pelajar di seluruh Indonesia :

  1. Pelajar harus bersikap kritis dan menolak segala bentuk praktik ekonomi yang mencederai prinsip Pasal 33 UUD 1945.
  2. Menjadikan nilai-nilai Idul Adha sebagai landasan untuk membangun karakter pelajar yang memiliki empati tinggi terhadap kesenjangan sosial, bukan pelajar yang apatis.
  3. Mendorong pelajar untuk berani mengembangkan dan mendukung model usaha berbasis kerakyatan yang inklusif sebagai bentuk perlawanan nyata terhadap monopoli elite.

"Masa depan Indonesia adalah tanggungjawab kita semua, keberanian kita untuk peduli dan bertindak adalah modal utama. Menolak Serakahnomics bukan sekadar jargon, melainkan langkah nyata bagi pelajar untuk memastikan ekonomi kita kembali menjadi alat untuk mensejahterakan rakyat banyak, bukan instrumen penindasan bagi yang lemah," tegas Wahyu.

Wahyu Mukhtar Asafurla Ketua Bidang Ekonomi PB PII, menyerukan kepada seluruh pelajar di pelosok Indonesia untuk menjadikan momentum Idul Adha tahun ini sebagai titik mula perlawanan intelektual terhadap segala bentuk sistem ekonomi yang tidak berkeadilan. Mari tunjukkan bahwa pelajar tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga turut terlibat dalam menjaga kedaulatan ekonomi bangsa.