HARIAN NEGERI - Jakarta, Sabtu (25/4/2026), Serikat mahasiswa muslimin indonesia cabang jakarta pusat, mengelar musyawarah cabang ke 4. Dalam agenda muscab tersubut Fahri Wael terpilih sebagai formature Ketua Umum yang di hadiri oleh 2 Komisariat di bawa Semmi Cabang Jakpus, memberikan dukungan penuh kepada Fahri Wael selaku formature ketua umum pirode 2026-2027.
Formature terpilih, Fahri Wael mengungkapkan bahwa Serikat mahasiswa muslimin indonesia sebagai organisasi serumpung syarekat islam memiliki sejarah panjang serta perang penting bagi bangsa dan negara.
“Sebagai organisasi kemahasiswaan, Semmi Jakpus juga mengambil perang penting dalam mengawal isu-isu nasional maupun regional sebab ini merupakan tugas serta perang generasi mudah dalam menjaga stabilitas serta megawal jalannya demokrasi di republik ini,” ujar Fahril.
Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa Organisasi sebagai rumah perjuangan yang memiliki historical panjang menjadi spirit yang mendarah daging di setiap kader Semmi seindonesia dan terkhususnya Semmi jakarta pusat.
“Ini merupakan perintah ideologi yang harus di jaga serta terus di rawat dan di perjuangkan demi kepentingam umat dan bangsa untuk mewudjkan islam sebagai rahmatan lil Alamin,” lanjutnya.
Sejarah Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) dalam Menjaga Demokrasi di Indonesia:
- Latar Belakang Berdiri SEMMI: didirikan pada 26 Maret 1956 di Jakarta. Organisasi ini lahir dari rahim Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Tujuannya: menghimpun mahasiswa muslim untuk memperjuangkan Islam, kemerdekaan, keadilan sosial, dan demokrasi berdasarkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
- Era Orde Lama Menentang Otoritarianisme: Akhir 1950-an SEMMI menolak gagasan Demokrasi Terpimpin Soekarno. Mereka konsisten membela demokrasi konstitusional dan menolak pembubaran partai politik.
- 1965-1966: SEMMI aktif dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Ikut menumbangkan Orde Lama lewat Tritura. SEMMI mendesak pembubaran PKI dan tegaknya demokrasi.
- Era Orde Baru “Oposisi dan Fusi 1970-an”: SEMMI kritis terhadap NKK/BKK dan kebijakan depolitisasi kampus Soeharto. Banyak kader SEMMI ditangkap karena menolak asas tunggal Pancasila. Pada Tahun 1973, Karena kebijakan fusi ormas, SEMMI melebur ke HMI lewat badan koordinasi HMI. Namun secara kultural, jaringan SEMMI tetap hidup di bawah PSII.
- Era Reformasi 1998 - Sekarang : Kader-kader eks SEMMI dan PSII ikut turun ke jalan menumbangkan Soeharto. Menuntut demokrasi, reformasi, dan pemilu bebas.
- Pasca Reformasi: SEMMI direvitalisasi kembali. Fokus pada pengawalan demokrasi prosedural & substansial. Isu yang dikawal: pemilu jurdil, anti KKN, tolak politik dinasti, kebebasan sipil, dan penegakan konstitusi.
- Contoh aksi: Menolak UU yang dianggap anti-demokrasi, mengkritik cawe-cawe kekuasaan, advokasi pemilu bersih.
Peran SEMMI Jaga Demokrasi
Era Peran Kunci Orde Lama Tolak Demokrasi Terpimpin, Bela Parlemen & Partai Orde Baru. Lawan asas tunggal, tolak NKK/BKK, kritik otoritarian Reformasi Turunkan Soeharto, kawal transisi demokrasi Sekarang.
Kontrol kekuasaan, tolak dinasti politik, pemilu bersih Ciri perjuangan SEMMI: Menempatkan Islam sebagai basis moral demokrasi. Demokrasi tanpa nilai = liberal. Islam tanpa demokrasi = otoriter. Jadi SEMMI mendorong "demokrasi berkeadaban".
Fahri Wael kembali mempertegas bahwa di periodenya Semmi jakarta pusat akan menjadi katalisator serta menjadi laboratorium ide sertaperkaderan untuk menjaga keseimbagan serta memperkuat simpul-simpul secara organisatoris.
“Semmi Jakpus akan mengawal program pemeritah demi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat indonesia melalui gerak kolaboratif serta mendukung program Asta-cita perintah dengan ide dan serta untuk mewujudkan Indonesia yang sosialis dan bermartabat. Ini merupakan gagasan umum dari formature ketua umum terpilih. Untuk melangjutkan stafet perjuangan Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia,” tutupnya.


Komentar