SERANG, HARIAN NEGERI – Krisis ketersediaan tempat tidur (bed) di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Dradjat Prawiranegara kian menjadi sorotan. Bahkan, manajemen RSUD Dradjat Prawiranegara Serang diduga carut marut, menyusul berulangnya keluhan masyarakat terkait buruknya pelayanan, khususnya di ruang IGD.

Persoalan yang menyangkut layanan dasar kesehatan ini tak hanya menuai keluhan publik, tetapi juga mulai masuk dalam agenda serius DPRD Kabupaten Serang. Senin, (20/04).

Insiden terbaru memperlihatkan kondisi memprihatinkan. Tiga pasien—termasuk seorang balita dan lansia—dilaporkan harus menunggu lebih dari 30 menit tanpa kepastian penanganan di ruang IGD. Keterbatasan bed disebut menjadi alasan utama, dengan petugas jaga hanya meminta pasien untuk menunggu karena kapasitas penuh.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran luas. IGD yang seharusnya menjadi garda terdepan penanganan darurat justru dinilai belum mampu menjamin respons cepat bagi pasien dalam kondisi kritis.

Merespons hal ini, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Serang, Abdul Basit, menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele.

“Kami sudah menyampaikan ke Komisi III DPRD Kabupaten Serang untuk segera mengadakan rapat guna membahas persoalan di RSUD Dradjat Prawiranegara,” tegasnya.

Langkah DPRD ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa persoalan pelayanan kesehatan, khususnya di IGD, telah memasuki tahap yang membutuhkan evaluasi menyeluruh. Tak hanya soal keterbatasan fasilitas, rapat tersebut juga diperkirakan akan menyoroti manajemen rumah sakit hingga sistem layanan darurat yang berjalan saat ini.

Sejumlah kalangan menilai, alasan keterbatasan bed tidak semestinya menghambat tindakan awal medis. Dalam standar pelayanan gawat darurat, pasien tetap harus mendapatkan penanganan cepat, meski dalam kondisi fasilitas terbatas.

Abdul Basit menambahkan, langkah koordinasi lintas komisi ini merupakan bentuk tanggung jawab DPRD dalam mengawal pelayanan publik.

“Ini harus dibahas serius agar ada kejelasan dan solusi konkret. Jangan sampai masyarakat dirugikan akibat pelayanan yang tidak maksimal,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Humas RSUD Dradjat Prawiranegara Serang belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi terkait insiden tersebut. Minimnya respons ini semakin memperkuat desakan publik agar ada transparansi dan perbaikan nyata.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi pengelolaan layanan kesehatan di daerah. IGD bukan sekadar fasilitas, melainkan titik krusial penyelamatan nyawa. Ketika pelayanan tersendat, yang dipertaruhkan bukan hanya kepercayaan publik, tetapi juga keselamatan pasien.