Oleh: Yanto (Ketua PW SEMMI Jakarta Raya)

Tujuh puluh tahun yang lalu, tepatnya pada 2 April 1956 di Jakarta, sebuah obor perjuangan dinyalakan oleh para intelektual muda Muslim yang bernaung di bawah panji Syarikat Islam. Kelahiran Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan jawaban atas kebutuhan zaman akan wadah intelektual yang mampu menyelaraskan antara iman, ilmu, dan amal dalam bingkai keindonesiaan. Seiring berjalannya waktu, SEMMI telah bertransformasi menjadi kawah candradimuka bagi para aktivis yang konsisten mengawal nalar kritis bangsa.

Menuju usia tujuh dekade ini, kita tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu yang terasa nyaman. Sejarah besar yang kita miliki adalah beban moral yang harus dikonversi menjadi energi baru untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Kita diingatkan kembali pada sosok H.O.S. Tjokroaminoto, guru bangsa sekaligus pimpinan Syarikat Islam, yang menegaskan bahwa setinggi-tinggi ilmu, se-murni-murni tauhid, dan se-pandai-pandai siasat adalah harga mati bagi setiap kader. Nilai ini harus menjadi fondasi utama dalam setiap gerak langkah pengaderan kita di tingkat nasional sampai komisariat/kampus.

Kekuatan sebuah organisasi tidak terletak pada kemegahan seremonialnya, melainkan pada ketajaman ideologi para kadernya. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Proklamator kita, Bung Karno, bahwa “Ideologi adalah senjata dalam perjuangan, jika senjata itu tumpul, maka perjuangan akan mudah dipatahkan”. Sedangkan bagi SEMMI, ideologisasi adalah proses penanaman nilai agar setiap mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum mustad’afin atau rakyat yang tertindas. Tanpa ideologi, gerakan mahasiswa hanya akan menjadi kerumunan tanpa tujuan.

Dalam lintasan sejarah, kita melihat bagaimana tokoh seperti Arudji Kartawinata membangun SEMMI dengan penuh kesahajaan namun memiliki visi yang menembus zaman. Beliau mengajarkan bahwa organisasi adalah alat perjuangan, bukan tujuan akhir. Oleh karena itu, pengkaderan di SEMMI Jakarta Raya dan sekitarnya harus mampu melahirkan kader yang "tahan banting" terhadap godaan pragmatisme politik yang kian marak. Kita harus memastikan bahwa setiap instruksi organisasi bukan sekadar perintah birokratis, melainkan perwujudan dari nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Namun, ideologi yang kuat akan sulit berdiri tegak jika ia bersandar pada kaki yang rapuh secara materi. Di sinilah pentingnya kemandirian ekonomi organisasi dan kader. Mohammad Hatta, bapak koperasi Indonesia, pernah berpesan bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai jika kita merdeka secara ekonomi. SEMMI hari ini harus mulai memikirkan cara agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bantuan luar yang sering kali memiliki "buntut" kepentingan tersembunyi. Kemandirian adalah benteng terakhir untuk menjaga idealisme agar tidak terbeli oleh kepentingan jangka pendek.

Sejarah mencatat bahwa Syarikat Islam bermula dari Syarikat Dagang Islam (SDI). Ini adalah bukti otentik bahwa sejak awal, gerakan kita memiliki DNA kewirausahaan yang kuat. Kita harus mengembalikan kejayaan itu dengan mendorong setiap kader SEMMI untuk menjadi 

sociopreneur. Mandiri secara ekonomi berarti kita memiliki otoritas penuh atas suara kita. Seorang kader yang mandiri tidak akan goyah keberaniannya hanya karena ancaman finansial, dan sebuah organisasi yang mandiri akan lebih lantang dalam menyuarakan kebenaran tanpa takut kehilangan logistik.

Di wilayah Jakarta Raya, sebagai episentrum pergerakan nasional, tantangan kemandirian ini terasa semakin nyata. Kita hidup di tengah pusaran arus ekonomi global yang sangat deras. Jika kita tidak mampu menciptakan ekosistem ekonomi di internal organisasi, maka kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri. Penguatan sektor UMKM di kalangan kader, pengembangan jejaring bisnis alumni, serta optimalisasi aset organisasi harus menjadi agenda utama dalam peta jalan menuju tujuh dekade ini.

Kita juga harus meneladani keteguhan hati para pendahulu kita yang tetap konsisten meski berada di bawah tekanan. Pada masa Orde Baru, ketika kebijakan NKK/BKK mencoba mematikan gerakan mahasiswa, SEMMI mampu bertahan karena memiliki akar yang kuat di masyarakat. Kemampuan adaptasi ini harus kita miliki saat ini untuk menghadapi era disrupsi digital. Pengaderan lagi terbatas pada ranah konvensional semata, melainkan harus menyentuh ranah digital tanpa kehilangan esensi ideologisnya.

Setiap kader SEMMI adalah pemimpin masa depan. Namun, pemimpin tanpa karakter adalah bencana bagi bangsa. Karakter yang kuat hanya bisa dibentuk melalui pengaderan yang disiplin dan berjenjang. Kita ingin mencetak kader yang mampu berdebat di ruang sidang dengan kajian akademik yang mendalam, sekaligus mampu turun ke jalan untuk membela hak-hak rakyat yang terpinggirkan. Sinergi antara kecerdasan intelektual dan kepekaan sosial adalah ciri khas yang harus terus kita pelihara.

Milad ke-70 SEMMI pada 2 April 2026 mendatang harus menjadi momentum bagi kita semua untuk melakukan audit ideologis. Sejauh mana kita telah mengamalkan nilai-nilai perjuangan organisasi? Sejauh mana kita telah berkontribusi bagi kemandirian umat? Jangan sampai usia 70 tahun hanya menjadi angka tanpa makna. Kita harus memastikan bahwa di setiap tarikan napas kader SEMMI, mengalir semangat untuk membesarkan organisasi dengan keringat dan karya nyata, bukan hanya dengan kata-kata manis di podium.

Penting bagi kita untuk merenungkan ucapan Buya Hamka, seorang tokoh besar yang pemikirannya sejalan dengan nilai Syarikat Islam, bahwa "Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan kesempatan untuk berhasil." Semangat inilah yang harus kita bawa dalam membangun kemandirian ekonomi. Jangan takut gagal dalam merintis usaha, jangan malu untuk memulai dari bawah, karena kedaulatan ekonomi adalah bentuk jihad kita hari ini.

Kemandirian organisasi juga berarti kemandirian dalam berpikir. Kita tidak boleh menjadi "bebek" yang hanya mengekor pada isu-isu yang dilemparkan oleh pihak lain. SEMMI harus menjadi trendsetter gerakan dengan menyodorkan solusi-solusi konstruktif atas masalah bangsa. Baik itu isu lingkungan hidup, kebijakan infrastruktur di daerah, hingga tata kelola pemerintahan, semua harus dikaji melalui kacamata ideologi SEMMI yang berpihak pada keadilan sosial.

Sebagai bagian dari pimpinan wilayah di jantung Indonesia, tanggung jawab kita adalah menjadi motor penggerak bagi cabang-cabang lainnya. Kita harus menjadi contoh bagaimana tata kelola organisasi yang modern dipadukan dengan nilai-nilai tradisional yang luhur. Koordinasi yang solid antar pengurus dan komunikasi yang cair dengan anggota adalah kunci agar setiap program kerja dapat terlaksana dengan dampak yang terukur bagi masyarakat luas.

Akhirnya, mari kita sambut usia ke-70 SEMMI dengan kepala tegak. Mari kita buktikan kepada dunia bahwa Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia tetap eksis, tetap kokoh ideologinya, dan semakin mandiri ekonominya. Kita adalah pewaris cita-cita para pendiri bangsa yang memimpikan Indonesia yang adil dan makmur. Dengan semangat Fastabiqul Khairat, mari kita bersaing dalam kebaikan dan terus memberikan dedikasi terbaik bagi organisasi tercinta.

Tujuh dekade SEMMI adalah sejarah tentang keteguhan, keberanian, dan pengabdian dalam membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berilmu pengetahuan luas, serta berakhlak mulia demi terwujudnya masyarakat adil dan makmur.

Zakat Fitrah