HARIAN NEGERI, Jakarta - Provinsi Kalimantan Timur mencatat ekspor udang windu sebanyak 769,9 ton dengan nilai mencapai Rp173,3 miliar selama periode Januari hingga Mei 2026, menjadikannya komoditas perikanan unggulan dengan kontribusi terbesar terhadap ekspor maritim daerah.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Timur Irma Listiawati mengatakan udang windu masih menjadi komoditas ekspor dominan yang diminati pasar internasional.

"Udang windu menjadi komoditas dominan dengan volume ekspor mencapai 769,9 ton selama lima bulan terakhir tahun 2026 senilai Rp173,3 miliar," kata Irma di Samarinda, Selasa.

Selain udang windu, terdapat empat komoditas perikanan unggulan lainnya yang turut menopang kinerja ekspor Kalimantan Timur, yakni udang pink, ikan kerapu segar, ikan bawal putih segar, dan udang putih.

Ekspor udang pink tercatat mencapai 239,2 ton dengan nilai ekonomi sebesar Rp31,6 miliar. Sementara itu, pengiriman ikan kerapu segar mencapai 89,3 ton dengan nilai ekspor Rp7,4 miliar.

Permintaan pasar internasional terhadap ikan bawal putih segar juga menunjukkan tren positif dengan volume ekspor mencapai 59,7 ton senilai Rp6,7 miliar. Adapun udang putih melengkapi lima besar komoditas ekspor perikanan daerah dengan volume pengiriman 27,7 ton dan nilai mencapai Rp4,7 miliar.

Irma menjelaskan berbagai produk perikanan unggulan Kalimantan Timur tersebut secara rutin dipasarkan ke 12 negara tujuan ekspor. Sejumlah pasar utama yang menjadi tujuan ekspor antara lain Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, China, dan Malaysia.

Untuk mendukung kelancaran distribusi produk segar, Kalimantan Timur telah memiliki fasilitas penerbangan ekspor langsung dari Balikpapan menuju Wenzhou, China.

Menurut Irma, layanan direct call tersebut menggunakan armada pesawat Cargo Rimbun yang beroperasi secara rutin dua kali setiap pekan.

"Pengiriman kargo udara cepat ini dikhususkan untuk produk unggulan yang harus dikirim dalam kondisi segar seperti belut, kepiting, dan ikan segar," ujarnya.

Keberadaan jalur penerbangan langsung tersebut diharapkan semakin memperkuat daya saing produk perikanan Kalimantan Timur di pasar global sekaligus memperluas akses pasar bagi komoditas hasil kelautan dan perikanan daerah.