HARIAN NEGERI - Jakarta, Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Jakarta Raya menyampaikan keprihatinan atas terjadinya penghambatan dan pembubaran forum diskusi yang berlangsung di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Senin (15/6).
Forum diskusi bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa” tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional, di antaranya Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Namun, berdasarkan berbagai informasi yang beredar, kegiatan tersebut tidak dapat berlangsung secara optimal akibat adanya penolakan dari sekelompok peserta.
Ketua PW KAMMI Jakarta Raya, Andre, menilai bahwa kampus semestinya menjadi ruang yang aman bagi pertukaran gagasan, diskusi ilmiah, dan pengujian ide secara terbuka.
“Kami menyayangkan terjadinya pembubaran forum diskusi di lingkungan kampus. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi dan dunia akademik. Namun, perbedaan tersebut seharusnya disampaikan melalui dialog, argumentasi, serta adu gagasan yang sehat, bukan dengan menghambat atau membubarkan forum yang sedang berlangsung,” ujar Andre.
Menurut Andre, kebebasan akademik merupakan salah satu pilar penting dalam kehidupan perguruan tinggi. Setiap gagasan yang disampaikan dalam ruang diskusi seharusnya diuji dengan data, argumentasi, dan kajian ilmiah sehingga menghasilkan proses pembelajaran yang mencerdaskan seluruh pihak.
PW KAMMI Jakarta Raya juga mengingatkan bahwa tradisi intelektual kampus dibangun di atas semangat keterbukaan, penghormatan terhadap perbedaan pandangan, serta keberanian untuk berdialog. Oleh karena itu, setiap bentuk tindakan yang berpotensi membatasi ruang diskusi perlu menjadi perhatian bersama agar tidak menggerus budaya akademik yang sehat.
Sebagai bentuk sikap organisasi, PW KAMMI Jakarta Raya menyampaikan beberapa poin sebagai berikut:
- Menyayangkan terjadinya pembubaran dan penghambatan forum diskusi di lingkungan kampus.
- Mendorong seluruh elemen mahasiswa untuk mengedepankan dialog, debat ilmiah, dan argumentasi yang beradab dalam menyikapi perbedaan pandangan.
- Mengajak seluruh civitas akademika menjaga marwah kampus sebagai ruang pertukaran gagasan dan pengembangan ilmu pengetahuan.
- Menegaskan pentingnya menjaga kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.
- Mendorong terciptanya iklim kampus yang inklusif, terbuka, dan kondusif bagi seluruh kelompok untuk menyampaikan pandangan secara damai.
“Kampus harus tetap menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan untuk diuji secara terbuka dan ilmiah. Demokrasi yang sehat tumbuh dari dialog dan pertukaran pemikiran, bukan dari pembungkaman,” tutup Andre.


Komentar