HARIAN NEGERI, Jakarta - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan tanggung jawab Amerika Serikat untuk memastikan implementasi nota kesepahaman perdamaian yang telah disepakati bersama serta penghentian penuh serangan militer Israel terhadap Lebanon.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein, dan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty.
Dalam kesempatan itu, Araghchi menyampaikan bahwa Iran telah melakukan kajian terhadap proses serta berbagai klausul yang tercantum dalam hasil negosiasi yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas peran Turki, Irak, dan Mesir dalam mendukung upaya gencatan senjata, meredakan ketegangan kawasan, serta mendorong langkah-langkah diplomatik untuk mewujudkan stabilitas dan keamanan regional.
Para menteri luar negeri tersebut sepakat bahwa konsultasi dan koordinasi perlu terus dilanjutkan guna memantau perkembangan situasi kawasan sekaligus memperkuat upaya diplomatik dalam menjaga perdamaian dan stabilitas.
Setelah gencatan senjata berlaku sejak 8 April lalu, Iran dan Amerika Serikat memulai perundingan yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri konflik secara permanen.
Naskah nota kesepahaman perdamaian yang telah disepakati merupakan hasil pembahasan atas usulan 14 poin yang diajukan Teheran pada tahap awal gencatan senjata. Dokumen tersebut telah melalui proses kajian berulang selama 60 hari terakhir oleh kedua pihak.
Araghchi menyatakan bahwa Iran tetap mempertahankan posisinya meskipun diwarnai berbagai tantangan selama proses perundingan, termasuk pelanggaran gencatan senjata dan dinamika perubahan sikap dari pihak Amerika Serikat.
Menyusul penandatanganan nota kesepahaman tersebut, Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan melanjutkan serangkaian perundingan dalam 60 hari ke depan guna mencapai kesepakatan komprehensif terhadap sejumlah isu yang masih belum terselesaikan.


Komentar