HARIAN NEGERI - Di tengah derasnya arus globalisasi, dunia pendidikan dituntut untuk bergerak cepat. Merespons instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait digitalisasi sekolah, Universitas Islam Nusantara menegaskan komitmennya untuk berada di garda terdepan dalam mencetak generasi emas melalui transformasi sistem pembelajaran yang adaptif dan berkarakter.Hal itu disampaikan Rektor Universitas Islam Nusantara Prof.
Dr.
Endang Komara M. Si pada gelaran seminar nasional bertema “Mewujudkan Pendidikan Bermutu, Berkarakter, dan Adaptif di Era Transformasi Digital” di Kampus Uninus, Bandung,.Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber, di antaranya Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Dr Cecep Darmawan, Rektor ARS (Adhirajasa Reswara Sanjaya) University) sekaligus Ketua Persatuan Guru Besar Indonesia (Pergubi) Jawa Barat Prof Dr Purwadi, serta Direktur Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) ARS University Prof Dr A Rohendi.Rektor Uninus, Prof Dr Endang Komara M.
Si menyatakan, transformasi digital di dunia pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dihindari pada era globalisasi saat ini.
Hal tersebut juga sejalan dengan amanat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang mendorong sekolah dan perguruan tinggi untuk mengarah pada pembelajaran berbasis digital.“Di perguruan tinggi, Uninus sendiri sudah mendapatkan izin untuk melaksanakan metode pembelajaran hybrid sejak tahun 2023.
Kami menilai transformasi digital ini akan berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran,” ujar Endang saat memberikan keterangan kepada awak media di sela-sela kegiatan.Menurut Endang yang juga menjabat Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Komite Nasional Pendidikan (Komnasdik), kualitas pendidikan sangat berkorelasi dengan peran guru dan dosen. Jika tenaga pendidik terus memperbarui kemampuan dan berinovasi, mereka akan melahirkan generasi emas yang mampu merealisasikan tujuan negara, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.Ia juga mengenang bagaimana pandemi Covid-19 pada 2019 memicu adaptasi sistem perkuliahan di Uninus, dari konvensional menjadi metode hybrid dan daring yang kini diadopsi oleh hampir seluruh perguruan tinggi.
Kendati berwawasan universal (think globally), Endang mengingatkan agar institusi pendidikan tinggi tetap menjaga karakteristiknya (act locally) yang berakar pada kebebasan akademik.Seminar ini dihadiri oleh mahasiswa program sarjana (S1), magister (S2), doktor (S3), guru, dosen, serta praktisi pendidikan. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat mengaplikasikan transformasi digital di instansi masing-masing guna mendukung pengembangan keprofesian berkelanjutan.“Pengembangan tersebut mencakup tiga indikator utama, yaitu menempuh studi lanjut dan pelatihan, menghasilkan karya inovatif, serta menciptakan publikasi ilmiah,” pungkas Endang.
(nto)


Komentar