HARIAN NEGERI - Tim Redaksi Harian Negeri telah melakukan penelusuran fakta mendalam terkait informasi yang beredar luas dengan judul '[SALAH] Prabowo Panggil Jokowi ke Istana untuk Tunjukkan Ijazah Asli'. Berdasarkan pantauan kami, isu ini telah memicu beragam tanggapan dari netizen di berbagai platform media sosial. Hasil Pemeriksaan Fakta Setelah melakukan kroscek data dan memverifikasi sumber-sumber terkait, kami menemukan adanya ketidaksesuaian antara narasi yang beredar dengan fakta yang ada di lapangan.
Tim Redaksi berupaya menyajikan klarifikasi agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan. Beredar unggahan foto [arsip] dari akun Facebook “Hari” pada berisi narasi: Dengan Tegas minta Jokowi terus terang tunjukkan ijazahnya Hingga , unggahan tersebut telah mendapatkan 980-an tanda suka, 910-an komentar, serta dibagikan ulang lebih dari 90 kali. Tim Pemeriksa Fakta
Tidak ditemukan informasi valid dan pemberitaan kredibel yang membenarkan klaim.
Pada November 2025 Polda Metro Jaya menetapkan delapan tersangka dalam kasus tudingan ijazah palsu yang dilaporkan Jokowi. Mereka adalah Eggi Sudjana (ES), Kurnia Tri Rohyani (KTR), Damai Hari Lubis (DHL), Rustam Effendi (RE), Muhammad Rizal Fadillah (MRF), Roy Suryo (RS), Rismon Hasiholan Sianipar (RHS), dan Tifauziah Tyassuma alias dr Tifa (TT). Pada April 2026, polisi menghentikan penyidikan terhadap terhadap tiga tersangka, yaitu Eggie Sudjana, Damai Hari Lubis dan Rismon Sianipar. Pada , Polda Metro Jaya menangkap dua tersangka kasus fitnah ijazah Jokowi, yakni Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa, sebagai tindak lanjut pelimpahan tahap dua kasus ijazah Jokowi.
Namun, pada penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa ditangguhkan. Sepanjang penelusuran, tidak ditemukan informasi valid dari pemberitaan kredibel yang membenarkan klaim “Prabowo panggil Jokowi ke Istana untuk tunjukk... Kesimpulan Berdasarkan seluruh bukti dan data yang dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa informasi tersebut masuk dalam kategori HOAKS / SALAH.
Narasi yang dibangun cenderung manipulatif dan tidak didukung oleh bukti otoritatif dari instansi terkait. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap penyebaran berita palsu atau hoaks. Selalu lakukan verifikasi mandiri dan hanya merujuk pada informasi resmi guna menghindari kerugian akibat disinformasi digital yang marak terjadi.
Rujukan Informasi: Lihat Data Sumber Asli


Komentar