HARIAN NEGERI, Jakarta - Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Kota Ternate melancarkan kecaman keras atas dugaan tindakan represif aparat kepolisian saat aksi Aliansi Mei Bergerak di depan Kantor Wali Kota Ternate, Senin (4/5/2026).
Demonstrasi yang semula berjalan tertib berubah ricuh, dan seorang kader PII dilaporkan menjadi korban.
Ketua Umum PII Kota Ternate, Nabil Hardi, tak menyisakan ruang kompromi. Ia menilai insiden tersebut sebagai bukti kegagalan komando di tubuh kepolisian. “Ini soal kendali. Kapolres gagal,” ujarnya tegas.
Menurutnya, tindakan aparat bukan sekadar pelanggaran prosedur, melainkan telah mencederai prinsip demokrasi dan kebebasan berpendapat. PII pun mendesak pencopotan Kapolres Ternate, AKBP Anita Ratna Yulianto, sebagai bentuk tanggung jawab institusional.
Aksi tersebut digelar dalam momentum Hari Bangkit PII ke-79 dan Hari Pendidikan Nasional. Namun, alih-alih menjadi ruang penyampaian aspirasi, aksi justru diwarnai ketegangan yang berujung benturan.
Nabil menegaskan, PII bukan organisasi sembarangan sejak PII lahir 1947, PII selalu berada dalam garda terdepan mempertahankan negara saat Agresi Militer Belanda dan sampai saat ini PII selalu berkontribusi untuk negara.
Ia menyebut sejumlah tokoh nasional pada saat ini diantaranya Dasco Ahmad dan Ahmad Muzani sebagai bukti kontribusi nyata kader PII bagi bangsa.
PII kini mengeluarkan ultimatum terbuka: jika tuntutan tidak direspons, gelombang aksi akan meluas ke tingkat nasional.
“Ini belum selesai,” tegas Nabil.


Komentar