HARIAN NEGERI - Bali, Rabu (11/3/2026), Pada tahun ini, momentum Hari Raya Nyepi berdekatan dengan Idul Fitri, khususnya malam takbiran yang menjadi bagian dari tradisi umat Islam menyambut hari kemenangan. 

Pertemuan dua momentum spiritual ini bukan sekadar peristiwa kalender, tetapi juga ujian kedewasaan sosial dalam merawat harmoni kehidupan beragama.

Di Bali, Nyepi memiliki makna mendalam bagi umat Hindu sebagai hari penyucian diri melalui Catur Brata Penyepian. Tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan. 

Dalam hal tersebut, Ketua Umum PW PII Bali Syahrul Ramadhan meminta agar Seluruh aktivitas publik berhenti sejenak agar manusia dapat melakukan refleksi batin serta menjaga keseimbangan alam dan kehidupan.

"Di sisi lain, malam takbiran bagi umat Islam merupakan ekspresi syukur setelah sebulan penuh menjalankan ibadah Ramadan. Kumandang takbir biasanya menggema di masjid maupun di ruang-ruang publik sebagai simbol kemenangan spiritual," ujar Syahrul Ramadhan. 

IMG-20260311-WA0031
Dialog PII Bali dan Pemuda Lintas Agama


Syahrul juga mengungkapkan bahwa ketika dua tradisi sakral ini berdekatan, dibutuhkan sikap bijak dan kesadaran kolektif agar keduanya tetap dapat berjalan dengan penuh penghormatan.

"Dalam konteks ini, Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Bali mengeluarkan surat himbauan kepada seluruh kader dan masyarakat. Himbauan tersebut menekankan pentingnya menjaga kondusivitas sosial serta menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama di Bali," ungkapnya. 

Adapun Surat edaran PW PII Bali dalam beberapa poin utama dalam himbauan tersebut antara lain:

  1. Menguatkan iman dan ketakwaan serta meningkatkan kualitas ibadah.
  2. Menghormati pelaksanaan Nyepi sebagai proses spiritual umat Hindu.
  3. Menghindari aktivitas yang dapat mengganggu pelaksanaan Nyepi.
  4. Menganjurkan ibadah umat Islam dilakukan secara sederhana di rumah tanpa cahaya dan suara yang mengganggu.
  5. Mengurangi mobilitas dan perjalanan yang berpotensi menimbulkan keramaian.
  6. Mengajak masyarakat untuk tidak terlibat dalam perdebatan yang dapat merusak harmoni sosial.
  7. Pelaksanaan takbiran dianjurkan mengikuti mekanisme terbatas demi menjaga ketertiban bersama. 

Syahrul menegaskan bahwa langkah ini menunjukkan bahwa kedewasaan beragama tidak hanya diukur dari semangat menjalankan ibadah, tetapi juga dari  kemampuan menghormati ruang spiritual orang lain.

"Bali selama ini dikenal sebagai contoh harmoni kehidupan antarumat beragama di Indonesia. Tradisi saling menghormati antara umat Hindu, Islam, Kristen, dan komunitas lainnya telah menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas sosial di pulau ini," tegasnya.

Syahrul menuturkan bahwa momentum pertemuan Nyepi dan malam takbiran seharusnya tidak dipandang sebagai potensi konflik, melainkan sebagai kesempatan untuk memperkuat nilai persaudaraan dan toleransi.

"Pada akhirnya, agama hadir bukan untuk memperbesar jarak antar manusia, tetapi untuk memperhalus akhlak dan memperkuat kemanusiaan. Ketika umat beragama mampu saling menjaga ruang ibadah masing-masing, di situlah peradaban yang beradab benar-benar terwujud," tutupnya.