BANTEN, HARIAN NEGERI – Sosok Syekh Asnawi bin Syekh Abdurrahman atau yang dikenal sebagai Syekh Asnawi Caringin merupakan salah satu ulama besar asal Banten yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam sekaligus perjuangan melawan penjajah. Ia lahir di Kampung Caringin, Labuan, Banten sekitar tahun 1850 Masehi dari keluarga religius, putra dari Syekh Abdurrahman.
Sejak usia muda, Asnawi telah dikirim ke Mekkah untuk menuntut ilmu agama. Di Tanah Suci, ia berguru kepada ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani yang mengajar di Masjidil Haram. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu dan dianggap mumpuni, ia kembali ke tanah kelahirannya untuk berdakwah.
Sepulangnya ke Banten, Syekh Asnawi aktif mengajarkan ajaran Islam dan berhasil menarik banyak pemuda untuk menjadi muridnya. Kepiawaiannya dalam berdakwah membuat namanya dikenal luas sebagai ulama kharismatik di wilayah Banten.
Tak hanya berdakwah, Syekh Asnawi juga dikenal sebagai sosok yang gigih melawan penjajahan Belanda. Ia mengobarkan semangat perlawanan di kalangan masyarakat dan pemuda saat wilayah Banten berada di bawah kekuasaan kolonial. Selain melalui dakwah, ia juga terlibat langsung dalam aksi perlawanan dan dikenal memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni.
Aktivitasnya tersebut membuatnya menjadi target penjajah. Syekh Asnawi sempat ditangkap di kawasan Tanah Abang dan diasingkan ke Cianjur selama lebih dari satu tahun dengan tuduhan pemberontakan. Meski demikian, selama masa penahanan dan pengasingan, ia tetap aktif berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat.
Setelah masa pengasingan berakhir, ia kembali ke Caringin dan melanjutkan dakwahnya dengan lebih intensif. Pada tahun 1884, Syekh Asnawi mendirikan sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Caringin. Pembangunan masjid tersebut juga diyakini sebagai upaya membangun kembali kehidupan spiritual masyarakat pasca bencana Letusan Gunung Krakatau 1883 yang sempat meluluhlantakkan wilayah Banten.
Sejak berdirinya masjid tersebut, aktivitas dakwah semakin berkembang. Banyak masyarakat dan pemuda datang untuk menimba ilmu darinya. Syekh Asnawi pun menghabiskan sisa hidupnya untuk mengajar dan membina umat di tanah kelahirannya.
Syekh Asnawi wafat pada tahun 1937 Masehi. Ia meninggalkan 23 putra dan putri serta warisan perjuangan yang besar bagi masyarakat Banten. Ia dimakamkan di kawasan pesisir Caringin, Labuan, dekat masjid yang didirikannya. Hingga kini, makamnya masih ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.
Kiprah dan perjuangan Syekh Asnawi menjadi bukti bahwa ulama tidak hanya berperan dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam memperjuangkan kemerdekaan dan membangun peradaban masyarakat.


Komentar