HARIAN NEGERI, Jakarta - Inovasi teknologi dari sebuah pesantren di Kediri sukses mencuri perhatian dunia. Tim robotika dari International Islamic Boarding School (IIBS) Imam Balqi Pare berhasil meraih predikat Juara ke-3 (3rd Winner) dalam ajang Singapore Invention Convention 2026 yang digelar di Temasek Polytechnic, Singapura, pada 26-27 Maret 2026.

Prestasi gemilang ini ditorehkan oleh Ghaida Syakwa Naja, Alya Naila Bana, dan Danny Suryadharma. Ketiga santri tersebut tampil percaya diri mempresentasikan karya inovasi mereka di hadapan dewan juri internasional, bersaing ketat dengan ratusan peserta dari berbagai negara yang membawa teknologi-teknologi mutakhir.

Keseriusan Mewujudkan “Fitrah and Global Education”

Keberhasilan di panggung Singapura ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan hasil dari kurikulum robotika dan sains yang dikelola secara serius. Fikri Zakia Qoimul Haq selaku Manager IIBSA, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah bukti konkret dari visi lembaga dalam mencetak generasi global.

"Kemenangan di ajang internasional ini adalah salah satu bentuk keseriusan kami dalam mewujudkan Fitrah and Global Education. Kami di IIBSA berkomitmen penuh untuk mewujudkan pendidikan terbaik namun tetap terjangkau untuk setiap orang tanpa terkecuali," tegas Fikri.

Menurutnya, IIBSA ingin mendobrak stigma bahwa pendidikan teknologi tinggi selalu identik dengan biaya mahal. Dengan sistem yang tepat, setiap santri memiliki peluang yang sama untuk menguasai teknologi masa depan.

Membuktikan Kualitas dari Pelosok Kampung

Kemenangan tim IIBSA di Temasek Polytechnic ini mengirimkan pesan kuat ke dunia pendidikan nasional: bahwa kualitas tidak dibatasi oleh sekat geografis. Slogan "Dari Kampung ke Dunia" yang diusung sekolah terbukti bukan sekadar retorika.

"Ini menunjukkan bahwa pendidikan yang tepat dan serius benar-benar dapat menjadikan mereka yang belajar dan berasal dari pelosok kampung sekalipun mampu mengharumkan nama bangsa dengan prestasi yang luar biasa," tambah Fikri.

Pencapaian Ghaida, Alya, dan Danny di Singapura ini diharapkan menjadi standar baru bagi pendidikan pesantren di Indonesia. Dari Pare, Kediri, para santri ini telah membuktikan bahwa penguasaan teknologi robotika yang dipadukan dengan karakter kuat mampu membawa nama Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya di dunia.