Oleh: Nurul Permatasari

Universitas    Muhammadiyah    Purwokerto

 

Perkembangan zaman telah membawa perubahan besar terhadap pola pikir generasi muda, termasuk    dalam    kehidupan    organisasi    pelajar    seperti    IPM    (Ikatan    Pelajar    Muhammadiyah)    dan OSIS    (Organisasi    Siswa    Intra    Sekolah).    Organisasi    yang    dahulu    dikenal    sebagai    tempat    belajar kepemimpinan, intelektualitas, dan pengabdian sosial kini mulai mengalami perubahan orientasi akibat pengaruh teknologi digital dan media sosial.

Di era sekarang, banyak pelajar aktif organisasi bukan hanya karena ingin belajar, tetapi juga karena ingin mendapatkan pengakuan sosial, popularitas, relasi, bahkan validasi di media sosial. Dokumentasi kegiatan sering kali lebih diprioritaskan dibanding proses dan makna kegiatan    itu    sendiri.    Fenomena    tersebut    memperlihatkan    bahwa    organisasi    pelajar    saat    ini    tidak dapat dipisahkan dari pengaruh budaya digital yang membentuk    cara berpikir generasi muda.

Dalam kajian filsafat ilmu, perubahan pola pikir tersebut dapat dianalisis melalui pendekatan ontologi,    epistemologi,    dan    aksiologi.    Ketiga    pendekatan    ini    membantu    memahami    bagaimana pelajar    memaknai    organisasi,    memperoleh    pengetahuan,    serta    menentukan    nilai    dan    tujuan    dari aktivitas organisasi yang mereka jalankan.

Melalui pendekatan filsafat ilmu, organisasi pelajar tidak hanya dipahami sebagai tempat berkegiatan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan cara berpikir, karakter, dan kesadaran sosial generasi muda.

Organisasi    Pelajar    dan    Krisis    Makna    di    Era    Modern 

Pada hakikatnya, organisasi pelajar dibentuk sebagai sarana pengembangan diri siswa. IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) hadir untuk membangun pelajar Islam yang berilmu, berakhlak,    dan    memiliki    kesadaran    dakwah.    Sementara    OSIS    (Organisasi    Siswa    Intra    Sekolah) dibentuk    sebagai    wadah    pembinaan    kepemimpinan,    kreativitas,    serta    tanggung    jawab    siswa    di lingkungan sekolah.

Namun    dalam    realitas    saat    ini,    banyak    pelajar    mulai    kehilangan    pemahaman    mengenai    hakikat organisasi itu sendiri. Organisasi tidak lagi dipandang sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan diri, melainkan sekadar tempat menjalankan formalitas kegiatan.


 

Fenomena    ini    dapat    dilihat    dari    berbagai    hal    sederhana    dalam    kehidupan    organisasi    sehari-hari. Banyak anggota lebih bersemangat ketika sesi dokumentasi dibanding saat proses diskusi berlangsung. Rapat sering kali hanya menjadi rutinitas tanpa arah pemikiran yang jelas. Program kerja dibuat sekadar untuk memenuhi kewajiban tahunan tanpa benar-benar mempertimbangkan manfaatnya bagi siswa.

Hal tersebut menunjukkan adanya krisis ontologis dalam organisasi pelajar, yaitu krisis pemahaman terhadap makna dan tujuan keberadaan organisasi. Organisasi pada akhirnya hanya menjadi simbol aktivitas, bukan ruang pertumbuhan intelektual dan karakter.

Padahal,    organisasi    memiliki    fungsi    yang    jauh    lebih    besar    daripada    sekadar    menjalankan    acara. Organisasi merupakan tempat pelajar untuk belajar menghadapi realitas kehidupan secara nyata. Di dalamnya, seseorang belajar menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, mengelola konflik, mengambil keputusan, serta memahami tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan. Jika organisasi kehilangan makna tersebut, maka organisasi hanya akan menghasilkan generasi yang sibuk bekerja tetapi miskin pemikiran.

Perubahan    Cara    Berpikir    Anak    IPM    dan    OSIS    di    Era Digital 

Kemajuan    teknologi    digital    juga    membawa    perubahan    besar    terhadap    cara    pelajar    memperoleh pengetahuan. Dahulu, budaya organisasi sangat erat dengan diskusi, membaca buku, mentoring, dan proses belajar yang panjang. Sekarang, sebagian besar informasi diperoleh melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya.

Perubahan tersebut melahirkan budaya instan dalam kehidupan organisasi pelajar. Banyak anggota menginginkan hasil cepat tanpa menghargai proses berpikir dan pembelajaran. Keberhasilan kegiatan sering diukur dari seberapa ramai media sosial organisasi, bukan dari dampak nyata kegiatan tersebut terhadap siswa.

Akibatnya, muncul pola pikir yang lebih mementingkan eksistensi dibanding substansi. Kegiatan sosial dijadikan bahan konten, seminar dibuat    agar terlihat aktif, dan kepemimpinan sering diukur dari popularitas seseorang di lingkungan sekolah. Hal tersebut bisa menjadikan manfaat tapi juga dapat mengakibatkan eksistensi dibandingkan substansi. Dalam perspektif filsafat ilmu, kondisi ini menunjukkan perubahan epistemologi generasi muda. Pengetahuan tidak    lagi    diperoleh    melalui    proses    refleksi    mendalam,    melainkan    melalui    arus    informasi    cepat yang sering kali tidak diverifikasi secara kritis, tidak dicerna kembali.


 

Budaya membaca juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Banyak pelajar lebih tertarik menonton video singkat dibanding membaca artikel atau buku yang membutuhkan konsentrasi lebih lama. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan analisis mulai melemah. Fenomena tersebut terlihat ketika diskusi organisasi menjadi dangkal karena kurangnya wawasan dan literasi. Pendapat yang muncul sering didasarkan pada opini pribadi atau tren media sosial, bukan pada hasil pemikiran yang mendalam.

Jika kondisi ini terus berlangsung, organisasi pelajar akan kehilangan identitas intelektualnya dan hanya menjadi tempat aktivitas seremonial tanpa arah pemikiran yang jelas. Hal ini juga menjadikan forum diskusi hanya memiliki bahan yang sedikit, kurang meluas.

Krisis    Idealisme    dalam    Kehidupan    Organisasi Pelajar 

Salah satu persoalan besar yang dihadapi organisasi pelajar saat ini adalah melemahnya idealisme    generasi    muda.    Pada    awal    masuk    organisasi,    banyak    pelajar    memiliki    semangat    besar untuk belajar, berkembang, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekolah. Mereka ingin menjadi pribadi yang aktif, berani berbicara, serta mampu membawa perubahan positif.

Namun    seiring    waktu,    idealisme    tersebut    sering    kali    memudar    karena    berbagai    faktor.    Budaya organisasi    yang    monoton    membuat    anggota    merasa    jenuh.    Kegiatan    hanya    berisi    rapat    formal, laporan pertanggungjawaban, dan rutinitas tahunan yang tidak memberikan ruang kreativitas maupun pengembangan pemikiran. Selain itu, konflik internal organisasi juga menjadi penyebab hilangnya semangat    anggota. Persaingan jabatan, kelompok pertemanan, senioritas, hingga politik internal sering membuat anggota kecewa terhadap realitas organisasi.

Banyak    pelajar    akhirnya    menyadari    bahwa    organisasi    tidak    selalu    berjalan    sesuai    harapan    ideal mereka. Sebagian menjadi pasif, sebagian memilih keluar, dan sebagian lagi tetap aktif tetapi kehilangan semangat perjuangan.

Dalam perspektif filsafat ilmu, kondisi tersebut terjadi karena organisasi kehilangan budaya refleksi dan diskusi pemikiran. Organisasi terlalu fokus pada teknis kegiatan tetapi minim ruang intelektual yang mampu menjaga semangat dan kesadaran anggota.

Padahal    organisasi    seharusnya    menjadi    tempat    lahirnya    gagasan,    diskusi    sosial,    dan    kesadaran kritis generasi muda terhadap lingkungan    sekitarnya. Tanpa idealisme, organisasi hanya akan menghasilkan generasi yang aktif secara administratif tetapi tidak memiliki arah perjuangan yang jelas.


 

Organisasi    Pelajar    sebagai    Ruang    Pembentukan    Karakter    dan    Pemikiran    Kritis 

Filsafat ilmu memandang bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang penguasaan materi pelajaran, tetapi juga tentang pembentukan cara berpikir manusia. Dalam konteks ini, organisasi pelajar memiliki peran besar sebagai ruang pembelajaran sosial dan intelektual.

Melalui organisasi, pelajar belajar memahami arti tanggung jawab dan kerja sama. Mereka belajar menghadapi tekanan, menyelesaikan konflik, dan mengambil keputusan dalam situasi nyata.    Pengalaman    seperti    ini    tidak    selalu    didapatkan    di    ruang    kelas. Selain    itu,    organisasi    juga dapat menjadi tempat berkembangnya budaya berpikir kritis. Pelajar dapat belajar mempertanyakan berbagai persoalan sosial yang terjadi di lingkungan mereka.

Misalnya:

 

  • mengapa    minat baca siswa rendah,
  • mengapa    kesehatan    mental    remaja    semakin terganggu,

  • mengapa    solidaritas    antar    siswa    mulai melemah,

  • atau    bagaimana    media    sosial    memengaruhi    perilaku    generasi    muda.

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bentuk latihan berpikir filosofis dalam kehidupan sehari-hari.    Pelajar    yang    terbiasa    berpikir    kritis    akan    lebih    mampu    menghadapi    tantangan    masa depan dibanding pelajar yang hanya mengikuti arus tanpa refleksi. Mereka tidak mudah percaya informasi, mampu menganalisis masalah secara rasional, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Karena itu, organisasi pelajar seharusnya tidak hanya fokus pada kegiatan hiburan atau formalitas acara, tetapi juga mulai membangun budaya literasi, diskusi, dan pengembangan pemikiran. Memperbaiki internal agar layak untuk dipandang ke luar atau eksternal.

Tantangan    Organisasi    Pelajar    di    Masa    Depan 

Perubahan teknologi dan budaya digital akan membuat tantangan organisasi pelajar semakin kompleks di masa depan. Generasi muda saat ini hidup dalam budaya individualisme digital. Banyak remaja lebih nyaman berinteraksi melalui layar dibanding komunikasi langsung. Hal ini    menyebabkan    solidaritas    sosial    mulai    melemah.    Selain    itu,    budaya    instan    membuat    sebagian pelajar sulit menghargai proses. Mereka terbiasa mendapatkan informasi, hiburan, dan pengakuan    secara cepat    sehingga    kesabaran    dalam belajar    dan    berorganisasi    mulai berkurang. Tantangan    lain    adalah    menurunnya    budaya    literasi.    Rendahnya    minat    membaca    membuat


 

kemampuan    berpikir    mendalam    semakin    melemah.    Padahal    organisasi    membutuhkan    anggota yang mampu berpikir rasional, kritis, dan memiliki wawasan luas.

Karena itu, organisasi pelajar perlu membangun paradigma baru yang lebih relevan dengan perkembangan zaman. Organisasi harus menjadi ruang yang mampu menggabungkan kreativitas    digital    dengan    budaya    intelektual.    Kegiatan    organisasi    tidak    cukup    hanya    ramai    dan menarik secara visual, tetapi juga harus mampu memberikan dampak nyata terhadap perkembangan pemikiran dan karakter pelajar.

Filsafat    ilmu    memberikan    pemahaman    yang    mendalam    mengenai    kehidupan    organisasi    pelajar di era modern. Melalui pendekatan ontologi, epistemologi, dan aksiologi, dapat dipahami bahwa    organisasi    pelajar    saat    ini    menghadapi    berbagai    tantangan    berupa    krisis    makna,    budaya instan, pengaruh media sosial, serta melemahnya idealisme generasi muda.

IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) dan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) seharusnya tidak hanya menjadi tempat menjalankan program kerja, tetapi juga menjadi ruang pembentukan    karakter,    intelektualitas,    dan    kesadaran    sosial    pelajar    serta    berdakwah.    Di    tengah arus    digitalisasi    yang    semakin    kuat,    organisasi    pelajar tetap    perlu    kembali    membangun    budaya berpikir kritis, literasi, dan refleksi agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya aktif secara kegiatan, tetapi juga matang secara pemikiran dan moral.

Generasi pelajar yang hebat    bukan hanya    generasi yang sibuk organisasi, tetapi generasi yang mampu berpikir, memahami realitas sosial, serta memberikan manfaat nyata bagi lingkungannya. Pelajar yang berorganisasi diharapkan mampu menerapkan filsafat ilmu dan berfikiran secara luas terhadap sesuatu yang ada di dunia ini, dapat mengamalkan sistem aksiologi yang baik.

Daftar    Pustaka 

Wahyuni,    S.    (2021).    “Peran    OSIS    dalam    Pembentukan    Karakter    Kepemimpinan    Siswa.” Jurnal Pendidikan .

Nurhasanah,    D.    (2020).    “Manajemen    Organisasi    Siswa    Intra    Sekolah    (OSIS)    dalam    Meningkatkan Disiplin Siswa.” Jurnal Manajemen Pendidikan .

Tafydah,    A.    (2022).    Penanaman    Nilai-Nilai    Karakter    Religius    dalam    Organisasi    IPM    di    SMK Muhammadiyah Sekampung


 

Fatkhurohmah, Pratiwi, P. H., & Martiana, A. (2020). “Manajemen Organisasi dalam Membangun    Loyalitas    Anggota    Organisasi    IPM    di    DIY.”    Jurnal    Dimensia ,    Universitas    Negeri Yogyakarta.

Peran    Program    Kegiatan    Organisasi    IPM    dalam    Pelaksanaan    Penguatan    Pendidikan    Karakter.” Repository UIN Sunan Kalijaga

Penguatan Manajemen Organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Jurnal Pengabdian Masyarakat .

Peran Organisasi IPM dalam Pembinaan Karakter Kepemimpinan Siswa.” IJPAI . Universitas Muhammadiyah Makasar

Rizal,    M.    (2021).    “Ontologi,    epistemologi,    dan    aksiologi dalam filsafat ilmu.” Jurnal Filsafat Indonesia , 4(2), 120–128.

Hidayat,    R.    (2020).    “Hakikat    filsafat    ilmu    sebagai    dasar    pengembangan    ilmu    pengetahuan.”

Jurnal    Pendidikan    dan    Pemikiran    Islam ,    5(1),    45- 56.

 

Muslih, M. (2016). Filsafat ilmu: Kajian atas asumsi dasar, paradigma, dan kerangka teori ilmu pengetahuan . Belukar.