HARIAN NEGERI, Jakarta - Dokter spesialis mata Tri Wahyu mengingatkan pentingnya penggunaan kacamata hitam yang memiliki perlindungan terhadap sinar ultraviolet (UV) guna mengurangi risiko gangguan kesehatan pada area mata, termasuk tumor kelopak mata akibat paparan sinar matahari dalam jangka panjang.
Dalam diskusi kesehatan yang diselenggarakan RS Pondok Indah di Jakarta, Rabu (3/6), dr. Tri menjelaskan bahwa perlindungan terhadap sinar matahari tidak hanya diperlukan pada kulit, tetapi juga pada area mata dan kelopak mata.
“Kalau kita beraktivitas di ruang terbuka dan terkena sinar matahari dalam waktu lama, perlindungan seperti sunscreen diperlukan, tidak hanya untuk perempuan tetapi juga laki-laki. Kacamata hitam juga dapat melindungi area mata maupun kelopak mata dari paparan sinar UV,” ujarnya.
Menurut dr. Tri, paparan sinar matahari secara kronis selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko terjadinya karsinoma sebasea, yakni tumor ganas yang menyerang kelenjar sebasea pada kulit, termasuk di area kelopak mata. Jenis kanker ini diketahui lebih sering ditemukan pada laki-laki.
Selain karsinoma sebasea, kanker kulit pada area kelopak mata juga dapat berupa karsinoma sel skuamosa dan karsinoma sel basal.
Ia menjelaskan bahwa gejala awal karsinoma sebasea kerap menyerupai bintitan, ditandai dengan munculnya benjolan kemerahan dan pembengkakan pada kelopak mata. Karena kemiripan tersebut, banyak kasus awalnya ditangani sebagai infeksi biasa.
“Kalau sudah diberikan pengobatan tetapi tidak menunjukkan perbaikan atau justru hasilnya buruk, maka perlu dicurigai adanya keganasan dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.
Dr. Tri menambahkan bahwa penanganan karsinoma sebasea umumnya dilakukan melalui operasi pengangkatan tumor yang kemudian dapat dilanjutkan dengan tindakan rekonstruksi pada area yang terdampak.
Selain tumor, kelopak mata juga rentan mengalami benjolan akibat infeksi maupun penyumbatan kelenjar. Salah satunya adalah hordeolum atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai bintitan.
Hordeolum terjadi akibat infeksi pada kelenjar di tepi kelopak mata dan sering dialami oleh orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan atau terpapar debu secara rutin.
“Orang yang sering berkendara atau bekerja di lingkungan berdebu lebih rentan mengalami hordeolum karena faktor infeksi,” ujarnya.
Sementara itu, kalazion merupakan benjolan pada kelopak mata yang muncul akibat penyumbatan kelenjar meibom. Kondisi ini berbeda dengan hordeolum karena tidak disebabkan oleh infeksi.
Menurut dr. Tri, baik hordeolum maupun kalazion umumnya dapat ditangani dengan pemberian obat antibiotik, kompres hangat, serta pijat kelopak mata sesuai anjuran dokter.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa tumor kelopak mata mencakup sekitar 5 hingga 10 persen dari seluruh kasus keganasan pada tumor kulit. Meski demikian, risiko kanker kulit diketahui lebih tinggi pada individu berkulit putih dibandingkan masyarakat dengan kulit berpigmen seperti orang Asia dan Austronesia.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk menerapkan perlindungan terhadap paparan sinar matahari sejak dini, termasuk menggunakan kacamata anti-UV saat beraktivitas di luar ruangan, guna menjaga kesehatan mata dan mengurangi risiko gangguan serius pada kelopak mata.


Komentar