Oleh: M. Fadly Ramadhan Siregar (Ketua Umum PW PII Sumut)
Belawan hari ini bukan lagi sekadar gerbang ekonomi Sumatera Utara, melainkan sebuah palagan kecemasan. Di balik deru mesin pelabuhan, tersimpan realitas kelam: anak-anak muda yang menukar masa depan dengan senjata tajam, gawai yang terjerat algoritma judi online, dan paru-paru yang sesak oleh asap sabu. Kita sedang menyaksikan sebuah kawasan yang tidak hanya tenggelam oleh rob, tapi juga karam oleh degradasi moral yang sistematis.
Negara Hadir atau Sekadar Mampir?
Hingga awal 2026, situasi keamanan di Belawan ibarat lingkaran setan yang tak berujung. Tawuran antarwarga di Bagan Deli hingga Kampung Bahari bukan lagi sekadar kenakalan remaja; ini adalah anomali sosial yang diduga kuat menjadi tirai pelindung bagi peredaran narkoba berskala besar. Saat aparat sibuk membubarkan massa yang saling lempar batu, di sudut lain, transaksi "barang haram" melenggang tanpa hambatan.
Kritik tajam patut dilayangkan pada pola penanganan yang selama ini berjalan. Warga, terutama ibu-ibu yang sudah lelah menangisi kematian anak-anak mereka, melihat respons otoritas hanya bersifat reaktif dan seremonial. Patroli gabungan sering kali hanya terasa "hangat-hangat tahi ayam"—ramai saat ada pejabat berkunjung, lalu sunyi saat maut kembali menjemput di lorong-lorong gelap.
Belawan dikelilingi markas besar militer dan kepolisian, namun mengapa rasa aman menjadi barang mewah yang paling sulit dibeli?
Judi Online dan Narkoba: Predator di Saku Pelajar
Situasi ini diperparah dengan penetrasi judi online yang merusak saraf berpikir pelajar. Di Medan Utara, judi online bukan lagi sekadar hiburan, melainkan candu yang memicu aksi kriminal lain seperti begal dan pencurian. Jika pemerintah hanya fokus pada penangkapan di hilir tanpa mematikan mesin bandar di hulu, maka penjara-penjara kita hanya akan penuh oleh korban, sementara sang arsitek kejahatan tetap berpesta pora.
PII Sumatera Utara: Melawan Arus Degradasi
Di tengah apatisme ini, Pelajar Islam Indonesia (PII) Sumatera Utara menegaskan posisi: kami tidak akan membiarkan regenerasi pemimpin bangsa mati di tangan geng motor dan bandar narkoba.
Melalui Leadership Training dan pembinaan karakter, PII berupaya menciptakan "ruang steril" bagi pelajar.
Namun, gerakan moral saja tidak cukup jika negara masih gagap dan bekerja hanya berdasarkan formalitas administratif.
Tuntutan dan Ultimatum Moral
Kami menuntut perubahan radikal dalam tata kelola keamanan di Belawan:
- Hentikan Penanganan Seremonial: Jangan lagi ada rapat koordinasi yang hanya berakhir di atas kertas. Kami butuh kehadiran pos keamanan permanen di titik rawan, bukan sekadar spanduk imbauan.
- Potong Kepala Bandar: Polisi harus membuktikan taringnya dengan menangkap aktor intelektual di balik narkoba dan judi online, bukan hanya memamerkan tangkapan "kaki tangan" kecil ke hadapan media.
- Rebut Ruang Publik: Pemerintah harus mengonversi lahan-lahan kosong di Belawan menjadi pusat kreativitas dan olahraga. Berikan anak muda Belawan pilihan selain senjata tajam atau layar judi.
- Keamanan Jalur Pendidikan: Pastikan setiap pelajar di Medan Utara dapat berangkat dan pulang sekolah tanpa dihantui bayang-bayang begal atau peluru nyasar akibat tawuran.
Belawan tidak butuh air mata formalitas dari para pejabat. Belawan butuh keberanian untuk membongkar akar masalah. Jika hari ini kita tetap membiarkan penanganan berjalan lamban dan hanya formalitas, maka sebenarnya kita sedang bersiap menggali liang lahat bagi masa depan generasi muda Sumatera Utara.
Jangan tunggu Belawan menjadi kota mati sebelum nurani kalian bergerak!


Komentar