Tentang Penulis

[IMA IKLIMA NJ] adalah mahasiswa [PENDIDIKAN AGAMA ISLAM] di [UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTTO]. Aktif dalam kegiatan [IMM,LDK AL-KAHFI]. Dapat dihubungi melalui [@i.i.n.j].

 

Sebagai mahasiswa, kita memang sedang berada di fase mengejar banyak hal sekaligus. Ingin sukses, ingin membanggakan orang tua, ingin mencapai cita-cita, dan ingin menjadi seseorang yang berhasil di masa depan. Sampai akhirnya hari-hari kita dipenuhi kesibukan yang, tanpa kita sadari, membuat hati kita ikut lelah.

Pernahkah kita merasa semuanya tetap berjalan seperti biasa, tapi hati terasa kosong? Senyum masih ada, aktivitas masih berjalan, tapi ada yang kurang tenang dalam diri. Terkadang kita terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa mengistirahatkan hati dengan mengingat Allah. Padahal Allah telah berfirman: “Alā bi-Żikrillāhi taṭma’innu al-qulūb” — “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).

Sering kali yang membuat kita lelah bukan hanya tugas atau aktivitas yang menumpuk, melainkan karena hati kita terlalu lama jauh dari Allah. Shalat mulai terburu-buru, doa mulai jarang, Al-Qur’an mulai ditinggalkan karena merasa tidak ada waktu. Kita ingin hidup kuat menghadapi semuanya, tapi hubungan dengan sumber kekuatan itu justru perlahan menjauh.

Memiliki mimpi besar bukan hal yang salah. Islam tidak melarang kita untuk sukses, kuliah tinggi, atau membanggakan orang tua. Tetapi jangan sampai perjalanan mengejar mimpi itu membuat kita lupa arah pulang. Karena sehebat apa pun pencapaian seseorang, jika hatinya jauh dari Allah, ketenangan yang hakiki tidak akan pernah benar-benar hadir. Persoalan inilah yang, menariknya, bukan hanya persoalan zaman kita. Lebih dari enam abad silam, seorang pemikir besar Islam telah mengidentifikasi akar dari krisis semacam ini: Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun dan Erosi Spiritual dari Dalam

Ibnu Khaldun (1332–1406 M) dalam magnum opus-nya, Muqaddimah, memperkenalkan konsep ‘ashabiyyah — semangat solidaritas dan kekuatan batin yang menjadi fondasi kejayaan maupun kehancuran sebuah peradaban. Bagi Ibnu Khaldun, manusia adalah makhluk yang kekuatannya bersumber dari ikatan yang mendalam: baik dengan sesama maupun dengan nilai-nilai transendental yang menghubungkannya kepada Tuhan.

Yang paling mengena dari pemikirannya adalah tesis tentang kemunduran: bahwa runtuhnya peradaban hampir selalu diawali bukan dari serangan musuh luar, melainkan dari erosi spiritual dari dalam. Ketika individu larut dalam gemerlapnya dunia dan melupakan nilai-nilai luhur, kekuatan batin melemah, dan kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.

Jika kerangka berpikir ini kita terapkan pada kehidupan mahasiswa Gen Z hari ini, polanya terlihat sangat nyata. Kesibukan akademik, tekanan media sosial, dan ambisi karier yang tiada henti secara perlahan menggeser ibadah ke pinggiran. Shalat yang terburu-buru, Al-Qur’an yang berdebu, dan dzikir yang tergantikan notifikasi adalah gejala dari ‘ashabiyyah spiritual yang mulai rapuh. Ibnu Khaldun juga menegaskan bahwa agama adalah tulang punggung peradaban — manusia yang kehilangan dimensi spiritual adalah manusia yang kehilangan arah, sebab akal tanpa petunjuk wahyu hanya akan menghasilkan kebingungan. Inilah paradoks paling mendasar Gen Z: generasi paling terdidik dalam sejarah, namun paling rentan mengalami kekosongan eksistensial.

Shalat sebagai Tempat Pulang

Mungkin hari ini kita merasa lelah, overthinking, kecewa, atau kehilangan semangat. Bisa jadi bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena hati kita sedang rindu sujud yang lebih lama, rindu doa yang lebih tenang, rindu dekat kembali kepada Allah. Bertolak dari pemikiran Ibnu Khaldun, solusinya bukan meninggalkan dunia, melainkan mengembalikan ibadah ke posisi sentralnya dalam kehidupan — menjadikannya jangkar, bukan beban tambahan.

Shalat bukan interupsi dari produktivitas — ia justru adalah sumbernya. Jiwa yang terhubung dengan Allah memiliki ketahanan batin yang tidak dimiliki jiwa yang terputus darinya. Dalam sujud, kita boleh menangis tanpa dihakimi. Dalam doa, kita boleh bercerita tanpa takut disepelekan. Dan kepada Allah, kita boleh menjadi manusia yang tidak selalu harus tampak kuat.

Ibnu Khaldun juga menekankan pentingnya komunitas yang menguatkan nilai. Lingkaran pertemanan yang saling mengingatkan shalat, mengaji, dan berbagi ilmu agama adalah bentuk ‘ashabiyyah paling produktif yang bisa kita bangun di kampus. Dan satu hal lagi yang tak kalah penting: maknailah mimpi sebagai bagian dari ibadah. Ketika cita-cita diniatkan untuk memberi manfaat bagi sesama dan meraih ridha Allah, maka setiap langkah — bahkan yang paling melelahkan — menjadi bernilai di hadapan-Nya.

Dunia tidak akan pernah berhenti membuat kita sibuk. Tapi jangan biarkan kesibukan itu menjadi alasan untuk menjauh dari Allah. Ibnu Khaldun mengajarkan bahwa kekuatan sejati manusia tidak terletak pada prestasi semata, melainkan pada keutuhan spiritual yang menghubungkannya kepada Tuhannya. Mulailah lagi memperbaiki kualitas shalat, memperbanyak doa, dan melibatkan Allah dalam setiap langkah hidup kita.

Karena pada akhirnya, dekat dengan Allah bukan penghalang dari mimpi — ia adalah fondasi paling kokoh untuk menggapainya.

Referensi

Khaldun, Ibnu. (2001). Muqaddimah Ibn Khaldun. Beirut: Dar al-Fikr.

Rosenthal, Franz. (1967). Ibn Khaldun: The Muqaddimah, An Introduction to History. Princeton: Princeton University Press.

Nasution, Harun. (2019). Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.