HARIAN NEGERI - Tim Redaksi Harian Negeri telah melakukan penelusuran fakta mendalam terkait informasi yang beredar luas dengan judul '[SALAH] Purbaya Alihkan Anggaran MBG untuk Pemberian Beras Gratis'. Berdasarkan pantauan kami, isu ini telah memicu beragam tanggapan dari netizen di berbagai platform media sosial. Hasil Pemeriksaan Fakta Setelah melakukan kroscek data dan memverifikasi sumber-sumber terkait, kami menemukan adanya ketidaksesuaian antara narasi yang beredar dengan fakta yang ada di lapangan.

Tim Redaksi berupaya menyajikan klarifikasi agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan. Beredar video [arsip] dari akun Facebook “Yadis Talangbalai” pada berisi narasi: ANGGARAN MBG 81 TRILIUN DI ALIHKAN, NASIB MBG DI UJUNG TANDUK...? Purbaya Resmi tarik Anggaran MBG 71 Triliun.

Dialihkan ke bantuan beras gratis..” Hingga unggahan ini telah mendapatkan 1,5 ribu tanda suka, menuai 350 komentar, dibagikan ulang sebanyak 34 kali dan ditonton ulang lebih dari 83 ribu kali. Tim Pemeriksa Fakta

Menkeu Purbaya tarik Rp71 triliun anggaran MBG” yang sudah tayang lalu. Hasil pembahasan menyatakan bahwa klaim anggaran MBG untuk pemberian beras gratis adalah tidak benar. Berdasarkan informasi terbaru, memang benar bahwa di tahun 2026 ini pemerintah membuka peluang melakukan efisiensi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dilansir dari Republika, Purbaya mengonfirmasi telah ada komunikasi di internal pemerintah terkait kemungkinan penyesuaian anggaran MBG. Namun, ia belum bersedia mengungkapkan potensi besaran pengurangan anggaran yang sedang dibahas. Hal tersebut disampaikan Purbaya kepada wartawan ketika diwawancarai di Kompleks DPR RI, Jakarta, .

Berdasarkan informasi tersebut, artinya rencana pemangkasan anggaran MBG dimaksudkan untuk efisiensi anggaran, bukan untuk dialihkan jadi pemberian beras gratis. Salah Sumber: [tangkapan layar] [sumber] Redaksi Harian Negeri/archive/1781233356.424094/index.html Kesimpulan Berdasarkan seluruh bukti dan data yang dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa informasi tersebut masuk dalam kategori HOAKS / SALAH. Narasi yang dibangun cenderung manipulatif dan tidak didukung oleh bukti otoritatif dari instansi terkait.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap penyebaran berita palsu atau hoaks. Selalu lakukan verifikasi mandiri dan hanya merujuk pada informasi resmi guna menghindari kerugian akibat disinformasi digital yang marak terjadi.


Rujukan Informasi: Lihat Data Sumber Asli