HARIAN NEGERI - Sebuah foto yang diklaim menampilkan Prabowo Subianto bersama mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang memamerkan produk daging babi dan spam dalam kaleng beredar luas di media sosial.

Konten tersebut disertai narasi yang mengaitkannya dengan isu keagamaan dan fatwa tertentu, sehingga memicu beragam reaksi serta perdebatan di ruang digital.

Hasil Cek Fakta

Tim Cek Fakta Harian Negeri menelusuri keaslian foto tersebut dengan menggunakan metode verifikasi visual, termasuk penelusuran arsip foto resmi dan analisis manipulasi gambar.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa gambar yang beredar merupakan hasil manipulasi digital. Elemen produk daging babi dan kaleng spam diketahui disisipkan ke dalam foto asli menggunakan teknik penyuntingan gambar.

Penelusuran terhadap dokumentasi resmi pertemuan antara Prabowo Subianto dan Donald Trump juga tidak menemukan foto yang menunjukkan keduanya memegang produk makanan seperti yang diklaim. Dokumentasi resmi pertemuan bilateral umumnya menampilkan kedua tokoh dalam konteks diplomatik standar dengan latar belakang bendera negara masing-masing.

Selain itu, dalam protokol kenegaraan internasional, setiap sesi foto resmi pada pertemuan tingkat tinggi diatur secara ketat oleh tim protokol. Objek yang tampil dalam dokumentasi resmi biasanya telah melalui proses kurasi sehingga tidak menampilkan unsur yang dapat menimbulkan kontroversi atau salah tafsir.

Analisis tambahan melalui teknik reverse image search menunjukkan bahwa foto dasar yang digunakan berasal dari dokumentasi pertemuan lama dengan konteks berbeda. Elemen produk yang terlihat pada gambar viral memiliki ketidaksesuaian pencahayaan dan perspektif dengan latar belakang foto asli, yang menjadi indikasi kuat adanya manipulasi visual.

Kesimpulan

Foto yang menampilkan Prabowo Subianto dan Donald Trump memamerkan produk daging babi dan spam merupakan hasil rekayasa atau manipulasi digital.

Konten semacam ini berpotensi memicu kesalahpahaman serta memanfaatkan sentimen sensitif di masyarakat. Oleh karena itu, publik diimbau untuk tidak langsung mempercayai ataupun menyebarkan konten visual yang belum terverifikasi.

Memeriksa sumber asli gambar, mencari konfirmasi dari dokumentasi resmi, serta melakukan penelusuran balik gambar merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menghindari penyebaran disinformasi di media sosial.


Sumber rujukan: Data Asli