CILEGON, HARIAN NEGERI - Ratusan orang muda memadati Festival Bumi Cilegon 2026 di VM Cafe, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, Sabtu, 16 Mei 2026. Penampilan Fajar Merah membakar semangat gerakan #PulihkanCilegon yang menyoroti dampak industri dan polusi PLTU batu bara di kawasan Suralaya.

Musisi asal Surakarta itu tampil membawakan lagu-lagu kritik sosial yang diadaptasi dari puisi ayahnya, Wiji Thukul. Sejumlah lagu seperti “Bunga dan Tembok” dan “Kebenaran Akan Terus Hidup” dinyanyikan bersama peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, komunitas seni, buruh, dan warga terdampak industri.

Festival bertajuk “Pulihkan Cilegon: Masa Depan Bersih dan Berkeadilan” itu menjadi ruang kampanye lingkungan yang dipadukan dengan seni, musik, dan diskusi publik.

“Kami tidak ingin orang muda Cilegon hanya mewarisi cerobong asap dan penyakit tanpa mendapatkan keadilan kesehatan,” kata Deni Setiawan dari Rhizoma Indonesia dalam diskusi publik.

Menurut Deni, pertumbuhan industri di Cilegon selama puluhan tahun tidak diikuti perbaikan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Ia menilai warga, terutama generasi muda, justru menanggung dampak paling besar.

Dalam data yang dipaparkan panitia, Kompleks PLTU Suralaya disebut telah beroperasi lebih dari empat dekade dan menjadi salah satu sumber pencemaran udara di Cilegon. Emisi PM2.5, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida dari PLTU dinilai meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Data yang dipaparkan penyelenggara menunjukkan terdapat potensi 1.790 kunjungan gawat darurat akibat asma setiap tahun di sekitar kawasan PLTU Suralaya. Selain itu tercatat 1.010 kasus baru asma, 936 kelahiran prematur, dan hilangnya sekitar 742 ribu hari kerja akibat penyakit terkait polusi udara.

Sementara itu, data Dinas Kesehatan Kota Cilegon mencatat 118.184 kasus ISPA sepanjang 2018 hingga Mei 2020 yang diduga berkaitan dengan paparan partikulat dari aktivitas industri dan PLTU.

“Sudah saatnya PLTU batu bara yang sudah tua dimatikan. Semakin lama beroperasi, semakin besar polusi yang dihasilkan,” ujar Deni.

Cholise dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jakarta mengatakan generasi muda akan menjadi kelompok yang paling lama merasakan dampak krisis iklim dan pencemaran udara.

“Krisis iklim dan polusi udara bukan isu masa depan. Itu sudah terjadi sekarang dan dirasakan langsung warga Cilegon,” kata Cholise.

Selain diskusi lingkungan dan konser musik, Festival Bumi 2026 juga diisi pertunjukan teater, stand up comedy bertema kritik lingkungan, serta instalasi “Pohon Harapan” yang berisi pesan warga tentang masa depan Cilegon.

Acara ditutup dengan deklarasi gerakan kolektif lingkungan hidup dan penandatanganan petisi “Tobat Ekologi” sebagai bentuk dukungan terhadap transisi energi bersih dan pengurangan ketergantungan pada PLTU batu bara.