HARIAN NEGERI, Jakarta - Profesor psikologi, neurosains, imunologi, dan genetika medis dari Ohio State University, Gary L. Wenk, menyebut gangguan ritme sirkadian dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan manusia.
Dalam artikel yang dipublikasikan di Psychology Today yang dirilis pada Rabu (28/5), Gary menjelaskan bahwa ritme sirkadian merupakan pola biologis tubuh yang mengatur fisiologi dan perilaku manusia, termasuk waktu bangun, makan, hingga tidur.
Menurutnya, jam biologis tubuh bekerja mengikuti ritme tertentu yang harus disinkronkan setiap hari dengan sinyal cahaya matahari agar seluruh sistem fisiologis dapat berfungsi optimal.
Ia menilai gaya hidup modern yang membuat banyak orang lebih sering berada di dalam ruangan, terlalu banyak makan pada siang hingga malam hari, serta kebiasaan begadang perlu dikoreksi demi menjaga kualitas tidur dan kesehatan secara keseluruhan.
Gary mengungkapkan hasil penelitian terbaru menunjukkan tidur kurang dari enam jam atau lebih dari delapan jam per hari dapat mempercepat proses penuaan organ tubuh.
Kurang tidur juga dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan seperti penurunan fungsi imun, obesitas, peradangan sendi, diabetes, gangguan metabolisme, hingga penurunan fungsi kognitif.
Dalam artikelnya, Gary menegaskan bahwa cahaya merupakan sinyal paling kuat untuk mengatur ulang dan menyinkronkan jam biologis tubuh manusia.
Paparan cahaya biru terang pada pagi hari disebut mampu meningkatkan kewaspadaan dan fungsi kognitif pada siang hari serta membantu tubuh memproduksi melatonin pada malam hari sebagai penanda waktu tidur.
Sebaliknya, paparan cahaya biru dari lampu dan layar gawai pada malam hari dapat mengganggu sistem sirkadian, menekan produksi melatonin, dan membuat seseorang lebih sulit tidur.
“Paparan banyak cahaya terang pada siang hari dan gelap pada malam hari sangat penting untuk bertahan hidup,” tulis Gary.
Penelitian juga menunjukkan kurangnya paparan cahaya pada siang hari serta terlalu banyak cahaya pada malam hari dapat memperpendek harapan hidup hingga lima tahun.
Selain faktor cahaya, pola makan juga disebut memengaruhi ritme sirkadian tubuh. Tubuh manusia dinilai lebih ideal memproses sebagian besar kalori pada awal hingga pertengahan bioritme harian dibandingkan pada malam hari.
Makan larut malam dapat mengganggu jam biologis tubuh, meningkatkan kadar glukosa darah, serta memengaruhi mikrobioma usus yang berperan penting terhadap kualitas tidur.
Pola makan tinggi gula dan lemak jenuh juga disebut dapat menyebabkan tidur menjadi lebih ringan dan meningkatkan frekuensi terbangun pada malam hari.
Sebaliknya, konsumsi buah dan sayuran pada siang hari diyakini mampu membantu meningkatkan kualitas tidur pada malam hari.
Gary menyimpulkan bahwa kualitas tidur dan kesehatan dapat ditingkatkan dengan memperbanyak aktivitas di luar ruangan, mendapatkan paparan cahaya terang pada pagi hingga siang hari, serta mengurangi cahaya pada malam hari.
Ia juga menyarankan masyarakat untuk meredupkan lampu dan menghindari penggunaan televisi maupun layar ponsel beberapa jam sebelum tidur.
Selain itu, kebiasaan makan berlebihan saat malam hari dan ngemil sebelum tidur sebaiknya dihentikan demi menjaga kualitas tidur dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.


Komentar