Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, sistem tidak pernah melampaui kualitas manusia yang menggerakkannya. Adapun kualitas manusia Indonesia sendiri masih bermasalah dalam disiplin, integritas dan kapasitas kerja bersama.

Sementara itu, sistem bernegara kita ibarat orkestra tua yang kehilangan konduktor batinnya. Setiap alat musik masih berbunyi kadang terlalu keras namun tak lagi mendengar irama keseluruhan.

Kementerian bernyanyi tentang capaian, lembaga menari di atas laporan tahunan, rapat berubah menjadi seremoni angka, sementara komitmen ikatan kerja bersama mengendur.

Pembangunan bergeser menjadi kompetisi antar-logo. Partai-partai politik lebih sibuk mengamankan kepentingan masing-masing, melupakan agenda besar perjuangan bangsa. Setiap institusi menjaga pagar kewenangan, seolah republik hanya gugusan kantor yang dipisahkan sekat administrasi.

Di sela itu, kebijakan negara kerap tak sepenuhnya bertumpu pada visi sendiri, melainkan mudah terimbas arus kepentingan dan kekuatan eksternal yang bekerja senyap.

Hukum tak lagi menjadi tuntunan, melainkan jerat labirin. Kepastian berubah menjadi tafsir yang bisa dinegosiasikan. Negara tampak bergerak, tetapi seperti roda di lumpur: bising, ramai, tanpa sungguh maju.

Lalu datang mimpi-mimpi raksasa: Danantara, hilirisasi, MBG, lompatan digital, swasembada, poros Dunia. Semua itu terkesan bahasa masa depan, namun pelaksanaannya kerap menunjukkan distorsi antara cita dan realita.

Ide besar dipidatokan dengan semangat langit, tetapi dijalankan oleh mesin birokrasi yang tambun tapi lamban, dengan pejabat yang miskin kompetensi dan integritas. Visi lebih cepat lahir daripada kapasitas; ambisi melampaui disiplin.

Padahal bangsa runtuh bukan karena kekurangan ide, melainkan karena kehilangan keterhubungan: ketika negara tak lagi merasa satu tubuh, pejabat lebih sibuk menjaga citra daripada kerja, pelayanan publik berubah dari panggilan moral menjadi beban.

Dalam bernegara, kita kehilangan sifat dasar gotong-royong. Negara bak kapal besar disesaki nahkoda kecil: masing-masing memegang peta sendiri, merasa paling penting, dan berbicara tentang tujuan tanpa pernah bergerak ke arah yang sama.