Oleh: Muhammad Musyaddad Zaen dan Muktia Mayang Sari [Angkatan PB PII 2017]
Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia (PII) ke-79 bukan sekadar momentum mengenang sejarah, tetapi juga saat yang tepat untuk melakukan refleksi mendalam: ke mana arah gerak kader hari ini? Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, muncul satu pertanyaan yang sering menjadi pergulatan batin kader, memilih menikah atau tetap fokus menjadi aktivis PII?
Pertanyaan ini tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan kompleksitas besar. Ia menyentuh dimensi personal, sosial, bahkan ideologis seorang kader.
Dalam perspektif Islam, menikah adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu, maka menikahlah…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun di sisi lain, menjadi aktivis adalah bagian dari perjuangan membangun umat dan peradaban. Ini bukan sekadar kegiatan organisasi, melainkan ladang jihad intelektual dan sosial.
Maka sejatinya, menikah dan tetap menjadi aktivis bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan dua jalan yang bisa disinergikan—meski pada praktiknya, tidak selalu mudah.
Realitas yang Menguji Kader
Di era hari ini, tantangan kader PII jauh lebih kompleks dibanding masa awal berdirinya:
- Tekanan Ekonomi dan Stabilitas Finansial: Banyak kader merasa harus “mapan dulu” sebelum menikah. Sementara aktivisme seringkali tidak memberikan keuntungan materi secara langsung.
- Distraksi Digital dan Budaya Instan: Media sosial membentuk pola pikir serba cepat, instan, dan cenderung individualistik. Aktivisme yang membutuhkan proses panjang sering kalah menarik dibanding “validasi digital”.
- Perubahan Nilai Sosial: Pernikahan kini sering dipandang sebagai beban, sementara aktivisme dianggap tidak menjanjikan masa depan. Ini menciptakan dilema baru bagi kader.
- Burnout Aktivisme: Tidak sedikit kader yang lelah secara mental karena aktivitas organisasi tanpa diimbangi manajemen diri dan visi jangka panjang.
Apa yang Harus Diprioritaskan?
Kunci dari semua ini adalah niat dan perencanaan hidup (life planning). Dalam Islam, setiap pilihan harus dikembalikan pada tujuan utama: ridha Allah dan kemaslahatan umat.
Beberapa hal yang perlu menjadi pegangan:
- Menikah adalah ibadah, bukan penghalang perjuangan. Bahkan bisa menjadi penguat jika pasangan memiliki visi yang sama.
- Aktivisme adalah amanah, bukan pelarian dari tanggung jawab pribadi.
- Keseimbangan adalah kunci, bukan memilih salah satu secara ekstrem.
Bagaimana Melalui Tantangan Ini?
- Membangun Visi Hidup yang Jelas: Kader harus punya roadmap: kapan menikah, bagaimana tetap berkontribusi, dan apa peran yang ingin diambil di masyarakat.
- Mencari Pasangan yang Sevisi: Pernikahan bukan akhir dari aktivisme, justru bisa menjadi awal perjuangan baru jika dibangun dengan nilai yang sama.
- Mengelola Waktu dan Energi: Aktivis harus cerdas mengatur prioritas agar tidak terjebak dalam kelelahan yang berkepanjangan.
- Menguatkan Spirit Keilmuan dan Ruhiyah: Aktivisme tanpa ruh akan kering, dan pernikahan tanpa ilmu akan rapuh.
- Adaptif terhadap Zaman tanpa Kehilangan Nilai: Kader PII harus mampu memanfaatkan teknologi dan perubahan sosial sebagai alat perjuangan, bukan justru larut di dalamnya.
Menjadi Kader yang Utuh
Hari Bangkit PII ke-79 mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak pernah berhenti. Pilihan menikah atau tetap aktif bukanlah soal benar atau salah, tetapi soal bagaimana menjadikan setiap pilihan sebagai bagian dari perjuangan.
Kader PII hari ini dituntut bukan hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga matang dalam mengambil keputusan hidup. Karena sejatinya, yang dibutuhkan umat bukan hanya aktivis yang lantang, tetapi juga pribadi yang mampu membangun keluarga sekaligus membangun peradaban.
Selamat Hari Bangkit PII ke-79
“Teruslah bergerak, dalam keadaan apa pun, di jalan perjuangan”


Komentar