Penulis: Sunano (Penulis Buku “Lucunya Prabowo” dan Direktur Advokasi Konsumen Muslim Indonesia PP KB PII)
Menarik kembali melihat semangat Polri ketika rapat bersama Komisi III DPR RI, pada 26 Januari 2026 kemarin. Kapolri, Jenderal Sigit Sulistiyo menegaskan daripada di bawah kementerian, mending jadi “petani”.
Pernyataan ini menjadi perhatian bersama, karena menjadi sikap tegas Polri menolak perubahan posisi di tengah proses kerja Komisi Percepatan Reformasi Polri. Terlebih, pilihan Kapolri adalah menjadi petani.
Petani, di Indonesia merupakan kelompok mayoritas pekerja, sebanyak 40,67 juta orang atau 28,54 persen dari total angkatan kerja nasional, menjadikannya sektor dengan serapan tenaga kerja tertinggi. Di sisi lain, petani menjadi pekerjaan paling rendah karena mayoritas adalah masuk kategori penduduk miskin.
Kemiskinan petani seperti diwariskan. Merujuk pada tesis Clifford Geertz tentang Involusi Pertanian. Mereka dipaksa bekerja lebih banyak, tetapi penghasilan tetap. Akibatnya mereka terjebak dalam kondisi “kemiskinan struktural” yang semakin akut.
Kemiskinan yang diwariskan ini menjadi problem struktural yang perlu diurai. Geertz menjaskan, dalam pewarisan aset misalnya. Orang tua memiliki lahan 1 hektare dapat mencukupi kebutuhan keluarga dengan dua anak. Ketika pembagian aset, setiap anak mendapatkan 0,5 hektare. Lahan ini sudah tidak mencukupi kebutuhan keluarga anak-anak petani ini.
Banyak kasus kriminalitas yang disebabkan kemiskinan. Ini perlu jadi perhatian penting Polri. Tidak hanya bergerak menangkap dan menyelesaikan masalah. Tapi berusaha mencegah dengan ikut mendorong kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga :
Jebakan Partai Kartel dan Kemandekan DemokrasiHal kedua yang menarik adalah, bisa jadi Jenderal Listyo Sigit Prabowo terinspirasi semangat Presiden Prabowo. Dua orang yang sama-sama memiliki nama “Prabowo”.
Ceritanya, pada satu acara Prabowo, ketika itu belum menjadi pejabat, hanya sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), membikin guyonan yang sempat dilontarkan di Agrotechnopark Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Prabowo sempat berkelakar bahwa ia kini menjadi panglima-nya petani. Menurutnya antara TNI dan tani sebenarnya hanya beda di huruf “A” saja. Meskipun demikian, sesungguhnya keduanya menghadapi masalah yang sama, yaitu menjaga kemerdekaan.
“Sebetulnya masalah petani adalah masalah kemerdekaan. Bagaimana kita mau merdeka bila lapar,” kata Prabowo. Menurutnya, petani dan prajurit menangani hal yang strategis. Pertanian merupakan bidang yang strategis karena menghasilkan pangan.
Terkait dengan ladang, dan apapun yang ditanam, Prabowo memang tampak bekerja sepenuh hati. Barangkali sebabnya karena kelakar yang ia selorohkan sendiri, yaitu tipisnya perbedaan TNI dan Tani, yaitu hanya beda pada huruf A-nya saja. Jadi gagal menjadi Panglima TNI, menjadi Panglima Tani tak masalah kan? Guyonan saat kunjungan ke daerah-daerah, rasa simpati, kepedulian, janji dan visi misi Prabowo sangat jelas.
Menurut Prabowo, tidak ada negara di belahan bumi manapun yang dapat menjadi negara maju dan berdaulat jika tak mampu menyediakan sendiri kebutuhan pangannya. Karena itu, Prabowo terus memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia khususnya kaum tani yang selama ini sering mendapatkan kesulitan. "Saya tidak rela melihat negara saya seperti ini, rakyatnya dalam keadaan susah, saya tidak terima kalau petani-petani kita tidak hidup dengan baik," ujar Prabowo.
Bagi Prabowo petani dan pertanian memiliki peran penting dalam pembangunan Indonesia sejak zaman kemerdekaan. "Pertanian menghasilkan pangan, pertanian menghasilkan makanan untuk seluruh rakyat. Kalau pertanian kita tidak baik, suatu saat ada keadaan tertentu, rakyat kita bisa kelaparan," kata Prabowo.
Presiden Prabowo pernah bangga menjadi Panglima TANI, tentu Jenderal Listyo Sigit Prabowo harus bangga menjadi POLISI TANI. Kebanggaan itu kelihatan dari rona wajahnya saat Presiden Prabowo meresmikan SPPG Polri dan Gedung Ketahanan Pangan, Jum’at 13 Februari 2026 di Palmerah.
Program Ketahanan Pangan Polri ini sangat penting saat krisis pangan global masih melanda, bencana iklim yang banyak merusak lahan pangan, dan dorongan peningkatan kesejahteraan petani.

Komentar