Penulis: Riska Aprilia
Overthinking atau berpikir secara berlebihan sudah menjadi fenomena yang cukup umum di kalangan mahasiswa. Banyak mahasiswa menghabiskan waktu untuk memikirkan tugas, nilai, masa depan, hubungan sosial, hingga kekhawatiran terhadap ekspektasi orang lain. Pikiran yang terus berputar tanpa henti sering kali membuat seseorang merasa cemas, takut gagal, sulit mengambil keputusan, bahkan kehilangan motivasi untuk bertindak. Dalam kehidupan perkuliahan yang penuh tuntutan, kondisi ini perlahan dianggap sebagai hal biasa, padahal dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental maupun produktivitas akademik mahasiswa.
Di era modern seperti sekarang, tekanan terhadap mahasiswa juga semakin besar. Persaingan akademik, perkembangan teknologi, serta pengaruh media sosial membuat banyak mahasiswa tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka melihat pencapaian teman sebaya, standar kesuksesan yang tinggi, dan tuntutan untuk selalu terlihat produktif. Akibatnya, mahasiswa sering merasa tertinggal dan mulai memikirkan banyak hal secara berlebihan. Tidak sedikit yang akhirnya merasa takut salah, takut gagal, dan takut tidak mampu memenuhi harapan lingkungan sekitarnya.
Mahasiswa sendiri dikenal sebagai kelompok intelektual yang dituntut untuk berpikir kritis, logis, dan mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan. Namun pada kenyataannya, kemampuan berpikir tersebut terkadang justru berubah menjadi tekanan dalam diri sendiri. Banyak mahasiswa terlalu lama mempertimbangkan sesuatu, terus meragukan keputusan yang akan diambil, dan akhirnya terjebak dalam lingkaran pikiran yang tidak menghasilkan tindakan nyata. Mereka sibuk memikirkan kemungkinan terburuk dibandingkan mencoba menghadapi kenyataan secara langsung.
Jika dilihat dari sudut pandang psikologi, overthinking sering dikaitkan dengan kecemasan, stres, dan perfeksionisme. Akan tetapi, dalam kajian filsafat ilmu, fenomena ini dapat dipahami lebih mendalam. Overthinking tidak hanya berkaitan dengan kondisi emosional, tetapi juga berhubungan dengan cara seseorang memahami pengetahuan, kebenaran, dan realitas kehidupan. Dalam filsafat ilmu terdapat pembahasan mengenai epistemologi, ontologi, dan aksiologi yang membahas bagaimana manusia memperoleh pengetahuan, memahami kenyataan, serta menggunakan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui sudut pandang tersebut, overthinking dapat dilihat sebagai bentuk ketidakseimbangan dalam proses berpikir manusia. Pikiran yang seharusnya membantu seseorang menemukan pemahaman dan solusi justru berubah menjadi sumber keraguan dan ketakutan.
Secara epistemologis, berpikir adalah upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Mahasiswa diajarkan metode ilmiah seperti hipotesis, verifikasi, dan penarikan kesimpulan. Namun dalam overthinking, proses berpikir justru berhenti pada keraguan tanpa adanya keputusan yang jelas. Mahasiswa terus mempertanyakan banyak kemungkinan hingga akhirnya sulit menentukan langkah yang harus diambil.
René Descartes pernah mengatakan “Cogito ergo sum” yang berarti “Aku berpikir maka aku ada.” Ia juga memperkenalkan metode keraguan sebagai cara untuk menemukan kepastian. Akan tetapi, banyak mahasiswa saat ini justru terjebak dalam keraguan yang berlebihan. Mereka meragukan pilihan, kemampuan diri, bahkan keputusan sederhana, sehingga tidak pernah benar-benar mencapai keyakinan untuk bertindak.
Dalam pandangan Karl Popper, ilmu berkembang melalui proses dugaan dan sanggahan. Seseorang perlu berani mencoba meskipun ada kemungkinan salah. Namun, mahasiswa yang mengalami overthinking cenderung takut salah dan takut gagal. Akibatnya mereka lebih memilih terus berpikir daripada mengambil tindakan nyata.
Dari sisi ontologi, overthinking muncul karena mahasiswa sering memandang realitas secara terlalu ideal. Mereka menganggap hidup harus berjalan sempurna, teratur, dan sesuai rencana. Ketika kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, muncullah rasa kecewa dan kebingungan. Mahasiswa sulit menerima bahwa kehidupan memang penuh ketidakpastian dan tidak selalu bisa diprediksi.
Selain itu, pengaruh media sosial membuat banyak mahasiswa membandingkan hidupnya dengan orang lain. Mereka melihat keberhasilan teman sebaya dan merasa dirinya tertinggal. Padahal setiap orang memiliki proses kehidupan yang berbeda. Kebiasaan membandingkan diri inilah yang akhirnya memperparah overthinking.
Dalam aspek aksiologi, ilmu seharusnya memberikan manfaat dan membantu manusia menjalani kehidupan dengan lebih baik. Namun pada kondisi overthinking, proses berpikir kehilangan arah dan tujuan. Mahasiswa berpikir bukan untuk mencari solusi, melainkan karena takut membuat kesalahan. Akibatnya, pikiran yang seharusnya menjadi alat untuk berkembang justru berubah menjadi sumber tekanan.
Karena itu, mahasiswa perlu belajar mengembangkan kesadaran terhadap cara berpikirnya sendiri. Mereka harus memahami bahwa tidak semua hal harus dipikirkan secara berlebihan. Mengambil keputusan dengan risiko tertentu merupakan bagian dari proses belajar. Kesalahan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan pengalaman untuk memperbaiki diri.
Penutup
Fenomena overthinking di kalangan mahasiswa bukanlah persoalan sederhana yang bisa dianggap sepele. Dalam tinjauan filsafat ilmu, kondisi ini menunjukkan adanya masalah dalam cara memahami pengetahuan, memandang realitas, dan memberi makna terhadap proses berpikir itu sendiri. Mahasiswa sering kali terlalu mengejar kepastian, takut melakukan kesalahan, dan akhirnya terjebak dalam keraguan yang tidak berujung.
Padahal, berpikir seharusnya membantu manusia menemukan solusi dan mengambil tindakan, bukan justru menjadi sumber tekanan bagi dirinya sendiri. Kesalahan dan ketidakpastian adalah bagian dari proses belajar yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, mahasiswa perlu belajar mengelola cara berpikirnya dengan lebih sehat, berani mengambil keputusan, dan memahami bahwa ilmu tidak hanya tentang teori, tetapi juga keberanian untuk bertindak.
Pada akhirnya, keseimbangan antara berpikir dan bertindak menjadi hal penting dalam kehidupan akademik. Sebab ilmu yang hanya dipikirkan tanpa diwujudkan dalam tindakan tidak akan membawa perubahan apa pun.


Komentar