HARIAN NEGERI, Jakarta - Mantan pembalap Moto2 Indonesia, Doni Tata Pradita, menilai Daerah Istimewa Yogyakarta membutuhkan sirkuit permanen guna mendukung pembinaan pembalap muda. Menurut dia, potensi besar yang dimiliki daerah tersebut belum sepenuhnya didukung fasilitas latihan yang memadai.
“Kita bisa melahirkan banyak pembalap, tetapi belum punya sirkuit permanen. Mudah-mudahan ke depan ada fasilitas yang bisa mendukung pembalap di Yogyakarta,” ujar Doni saat dihubungi ANTARA, Selasa.
Yogyakarta sendiri telah melahirkan sejumlah pembalap yang mampu bersaing di level internasional. Terbaru, Veda Ega Pratama mencatat sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang meraih podium Grand Prix setelah finis ketiga pada ajang Moto3 Brasil akhir pekan lalu.
Selain itu, Aldi Satya Mahendra juga menorehkan prestasi dengan meraih podium kedua pada seri pembuka World Supersport 2026 di Phillip Island, Australia.
Nama lain yang lebih dulu menembus kejuaraan dunia adalah Andi Farid Izdihar atau Andi Gilang, yang pernah tampil di ajang Moto2. Meski berasal dari Sulawesi Selatan, ia diketahui rutin berlatih di Yogyakarta.
Menurut Doni, Yogyakarta selama ini dikenal sebagai salah satu basis pembinaan pembalap di Indonesia karena banyaknya sekolah balap yang berdiri di daerah tersebut. Para pembalap pun terbiasa berlatih bersama untuk meningkatkan kemampuan sekaligus membangun kekompakan.
“Di Jogja banyak sekolah balap. Ada sekolah balap milik orang tua Veda, kemudian tempat saya juga, dan beberapa pelatih lain. Jadi kami sering latihan bareng, saling berbagi pengalaman,” katanya.
Ia menambahkan, sejumlah pembalap seperti Veda dan Aldi saat ini lebih banyak menjalani program latihan di Eropa yang memiliki fasilitas lebih lengkap. Namun, ketika kembali ke Indonesia, mereka tetap berlatih di Yogyakarta meski dengan keterbatasan yang ada.
Doni berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan sirkuit permanen, mengingat prestasi pembalap asal Yogyakarta terus bermunculan, termasuk dari cabang motocross seperti Sheva Anella Ardiansyahyang juga meraih podium di kejuaraan internasional.
“Jogja ini sebenarnya barometer pembalap Indonesia. Dengan segala keterbatasan saja bisa lahir pembalap internasional,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan sirkuit permanen dengan fasilitas memadai, seperti yang dimiliki negara-negara Eropa dan Jepang, akan semakin membuka peluang lahirnya lebih banyak pembalap berprestasi dari Indonesia.
“Kalau tiap daerah punya sirkuit, pasti akan lebih banyak lagi pembalap top yang lahir. Sekarang saja dengan keterbatasan sudah ada yang bisa sampai ke level dunia,” kata Doni.
Doni berharap ke depan Yogyakarta dapat memiliki sirkuit permanen agar pembalap muda memiliki tempat latihan yang layak dan sistem pembinaan dapat berjalan lebih maksimal.


Komentar