HARIAN NEGERI - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi salah satu yang mengemuka dan banyak disoroti masyarakat dalam pelaksanaan Reses Sidang III Tahun Anggaran 2025-2026 yang dilakukan Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Dapil Jabar I , H Tedy Rusmawan, AT, MM baru-baru ini.Selama dua pekan pelaksanaan reses, Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat tersebut menerima berbagai masukan dari masyarakat, khususnya para ibu, terkait pelaksanaan program MBG di sekolah.Menurut Tedy, banyak sejumlah ibu menyampaikan keluhan mengenai variasi menu dalam program MBG yang dinilai kurang menarik sehingga membuat anak-anak merasa bosan.“Selama reses, cukup banyak ibu-ibu yang menyampaikan keluhan terkait menu Makan Bergizi Gratis yang dianggap membosankan. Akibatnya, konsumsi makanan oleh anak-anak menjadi tidak optimal,” ujar Tedy Rusmawan.Ia menjelaskan, kondisi tersebut berimbas pada banyaknya makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa dan akhirnya menjadi sampah sisa makanan.“Ujung-ujungnya banyak makanan yang tidak habis dimakan sehingga menimbulkan sampah sisa makanan. Ini tentu perlu menjadi bahan evaluasi bersama agar tujuan program dapat tercapai secara maksimal,” katanya.Tedy menilai, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari tersalurkannya makanan kepada siswa, tetapi juga sejauh mana makanan tersebut benar-benar dikonsumsi dan mampu memenuhi kebutuhan gizi anak.Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap variasi menu serta mekanisme pelaksanaan program agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan preferensi peserta didik.Salah satu aspirasi yang banyak disampaikan masyarakat, lanjut Tedy, adalah agar pengelolaan program MBG dapat melibatkan kantin sekolah.

Menurut warga, pengelolaan oleh kantin sekolah dinilai lebih fleksibel dalam menyesuaikan menu dengan selera siswa setempat.“Ibu-ibu mengharapkan ada alternatif, misalnya MBG dikelola oleh kantin sekolah sehingga menu yang disajikan bisa lebih bervariasi dan disesuaikan dengan karakteristik siswa di masing-masing sekolah,” ungkapnya.Selain itu, terdapat pula usulan agar bantuan program MBG dapat diberikan dalam bentuk uang atau mekanisme lain yang memungkinkan orang tua, khususnya ibu, menyiapkan langsung makanan bagi anak-anak mereka.“Ada juga aspirasi agar bantuan diserahkan kepada orang tua, terutama ibu, untuk dibuatkan makanan di rumah. Sebab, orang tua tentu lebih mengetahui menu kesukaan anaknya sekaligus dapat memastikan kebutuhan gizinya terpenuhi,” jelas Tedy.Meski demikian, Tedy menegaskan bahwa berbagai masukan tersebut perlu dikaji secara komprehensif oleh pemerintah agar tujuan utama program MBG, yakni meningkatkan kualitas gizi anak dan mendukung tumbuh kembang generasi muda, tetap dapat tercapai secara optimal.“Kami berharap berbagai aspirasi yang disampaikan masyarakat ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah agar program Makan Bergizi Gratis benar-benar efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat maksimal bagi anak-anak,” pungkasnya.(rik/adv)