Banyak orang beranggapan bahwa tidur saat berpuasa di bulan Ramadan adalah ibadah, sehingga tak jarang hal ini dijadikan alasan untuk bermalas-malasan sepanjang hari. Dengan keyakinan bahwa tidur mendatangkan pahala, sebagian orang lebih memilih menghabiskan waktu dengan tidur daripada beraktivitas. Namun, benarkah tidur yang berlebihan selama puasa benar-benar bernilai ibadah? Ataukah justru bertentangan dengan esensi Ramadan yang mengajarkan disiplin, produktivitas, dan peningkatan kualitas ibadah? Sebelum terjebak dalam pemahaman yang keliru, mari kita telaah lebih dalam kebenaran dari anggapan ini.

Status Keshahihan Hadis

Baca Juga:
Bank Mandiri

Salah satu hadits yang populer tiap Ramadhan tiba adalah hadits tentang keutamaan orang berpuasa yang bahkan tidurnya pun berstatus sebagai ibadah. Berikut hadits yang menjelaskan tentang hal ini: 

  نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ 

“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni” (HR Baihaqi).

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), hadis ini tidak bisa dijadikan dalil utama karena kelemahan sanadnya. Selain itu, IslamQA juga menyebutkan bahwa hadis ini dianggap lemah oleh al-Baihaqi dan para ulama lainnya, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah yang kuat dalam Islam. 

Meskipun demikian, bukan berarti tidur saat puasa tidak boleh atau berdosa. Jika tidur dilakukan untuk menjaga stamina agar bisa beribadah dengan lebih baik, maka tetap bernilai positif. Namun, jika tidur berlebihan hingga lalai dari ibadah dan tanggung jawab lainnya, tentu bertentangan dengan esensi Ramadan yang mengajarkan pengendalian diri dan produktivitas.

Pandangan Ulama tentang Tidur saat Puasa

Meskipun hadis tersebut lemah, beberapa ulama memberikan pandangan mengenai tidur saat berpuasa:

  • Abu al-Aliyah, seorang tabi'in, berkata: "Orang berpuasa tetap dalam ibadah selama tidak menggunjing orang lain, meskipun ia dalam keadaan tidur di ranjangnya." Pernyataan ini menunjukkan bahwa menjaga lisan dan perilaku selama berpuasa lebih diutamakan.
  • Mayoritas ulama, termasuk yang bermazhab Syafi'i, berpendapat bahwa tidur seharian penuh tidak membatalkan puasa seseorang, asalkan pada malam harinya ia sudah berniat untuk berpuasa. Namun, tidur sepanjang hari tanpa melakukan ibadah lain dianggap makruh karena tidak sesuai dengan tujuan puasa, yaitu meningkatkan ketakwaan dan pengendalian diri. 

 

 

Anjuran Aktivitas Selama Puasa

Selama berpuasa, umat Muslim dianjurkan untuk tetap produktif dan menjalankan aktivitas yang bermanfaat, seperti:

  • Membaca Al-Qur'an: Memperbanyak tilawah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
  • Berdzikir: Mengisi waktu dengan mengingat Allah melalui dzikir dan doa.
  • Mengikuti Kajian Agama: Menambah ilmu pengetahuan melalui ceramah atau diskusi keagamaan.

Dengan demikian, tidur saat berpuasa tidak secara otomatis dianggap sebagai ibadah, terutama jika didasarkan pada hadis yang lemah. Namun, jika tidur tersebut dimaksudkan untuk menjaga energi agar dapat menjalankan ibadah lainnya dengan lebih baik, dan diiringi dengan niat yang ikhlas serta tidak mengabaikan kewajiban lainnya, maka tidur tersebut dapat bernilai positif. Sebaliknya, memperbanyak tidur hingga mengabaikan ibadah dan tanggung jawab lainnya tidak sejalan dengan semangat puasa Ramadhan.

Sumber

https://mui.or.id/baca/berita/tidur-saat-berpuasa-bernilai-ibadah-ternyata-hadisnya-bermasalah

https://islamqa.info/id/answers/106528/hadits-tidurnya-orang-yang-berpuasa-adalah-ibadah-adalah-lemah

https://nu.or.id/ramadhan/maksud-hadits-tidur-orang-berpuasa-adalah-ibadah-kLinb