HARIAN NEGERI, Jakarta - Pemerintah Spanyol menegaskan tidak akan mengambil bagian dalam operasi militer apa pun di Selat Hormuz yang berpotensi memperburuk ketegangan dan memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menyampaikan bahwa negaranya tetap berpegang pada prinsip penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan menolak pendekatan militer sebagai solusi atas krisis yang sedang berlangsung.
"Kami tidak akan mengambil bagian dalam tindakan apa pun yang dapat berarti eskalasi. Dan yang terpenting, kami pikir tidak ada solusi militer untuk krisis ini," ujar Albares dalam wawancara dengan Financial Times, Selasa (2/6).
Pernyataan tersebut disampaikan saat Albares ditanya mengenai kemungkinan keterlibatan Spanyol dalam misi NATO untuk mengamankan Selat Hormuz apabila Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik terpenting bagi distribusi energi dunia. Ketegangan yang terjadi di kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi global.
Pada Mei lalu, para menteri pertahanan dari sekitar 40 negara yang tergabung dalam koalisi untuk menjaga keterbukaan jalur pelayaran di Selat Hormuz menggelar pertemuan yang dipimpin Inggris dan Prancis. Dalam pernyataan bersama yang dihasilkan, koalisi tersebut menegaskan bahwa misi keamanan yang dijalankan bertujuan mendukung dan melengkapi upaya diplomatik dalam menyelesaikan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi keamanan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, pada Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional.
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada April lalu juga sempat menyatakan tengah mempertimbangkan kemungkinan penarikan negaranya dari NATO. Dalam wawancara dengan surat kabar The Telegraph, Trump mengkritik aliansi pertahanan tersebut setelah tidak memberikan dukungan terhadap operasi yang berkaitan dengan konflik Iran dan menyebut NATO sebagai "macan kertas".
Sikap Spanyol yang menolak keterlibatan dalam operasi militer di Selat Hormuz menunjukkan komitmen negara tersebut untuk mengedepankan dialog dan diplomasi sebagai jalan utama dalam meredakan konflik serta menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.


Komentar