HARIAN NEGERI - Tim Redaksi Harian Negeri telah melakukan penelusuran fakta mendalam terkait informasi yang beredar luas dengan judul '[SALAH] Salah, Video Klaim Vaksin COVID-19 Mengandung Grafena Oksida'. Berdasarkan pantauan kami, isu ini telah memicu beragam tanggapan dari netizen di berbagai platform media sosial. Hasil Pemeriksaan Fakta Setelah melakukan kroscek data dan memverifikasi sumber-sumber terkait, kami menemukan adanya ketidaksesuaian antara narasi yang beredar dengan fakta yang ada di lapangan.
Tim Redaksi berupaya menyajikan klarifikasi agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang menyesatkan.
Video berdurasi lebih dari 45 detik tersebut menunjukkan sebuah percobaan penciptaan gelembung-gelembung hitam di dalam cawan petri yang terhubung, membentuk struktur seperti rantai. “Ini adalah reaksi goo hitam yang dikenal sebagai graphene oxide ke frekuensi radio aktif 5G. Ini ada di setiap vaksin & booster covid-19, itulah yang menyebabkan apa yang disebut serangan jantung "penggumpalan darah", gangguan saraf...
miokarditis dan sebagainya... jika masuk ke otak, permainan berakhir. Bayangkan apa yang akan terjadi ketika mereka menyalakan tiang 5G dengan kekuatan penuh pada 64 GHz.
Sedihnya Kami mengharapkan 2,4 miliar orang yang divaksinasi meninggal dalam 2-3 tahun.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan. #gpt-inline3-passback{text-align:center;} Sampai artikel ini ditulis pada , unggahan tersebut masih dapat diakses dan rawan dijadikan berita bohong. #gpt-inline4-passback{text-align:center;} Lantas, benarkah video tersebut menunjukkan goo hitam dalam vaksin COVID-19 yang diklaim mengandung grafena oksida?
periksa fakta Graphene Oxide. Kesimpulan Berdasarkan seluruh bukti dan data yang dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa informasi tersebut masuk dalam kategori SALAH. Narasi yang dibangun cenderung manipulatif dan tidak didukung oleh bukti otoritatif dari instansi terkait.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap penyebaran berita palsu atau hoaks. Selalu lakukan verifikasi mandiri dan hanya merujuk pada informasi resmi guna menghindari kerugian akibat disinformasi digital yang marak terjadi.
Rujukan Informasi: Lihat Data Sumber Asli


Komentar