__temp__ __location__

HARIAN NEGERI, Bandung — Potongan video perdebatan antara Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan seorang siswi SMA bernama Aura Cinta tengah ramai dibicarakan di media sosial. Video yang beredar di platform seperti Instagram dan TikTok itu memperlihatkan perdebatan sengit terkait kebijakan penghapusan acara wisuda di sekolah.

Dalam video tersebut, Aura Cinta secara lantang menyampaikan penolakannya terhadap penghapusan wisuda. Ia menilai bahwa acara perpisahan adalah momen penting untuk menciptakan kenangan selama masa sekolah. Namun, Dedi Mulyadi menanggapi bahwa kenangan tidak hanya tercipta dari acara wisuda, melainkan dari proses pembelajaran selama tiga tahun. Ia juga menyoroti bahwa wisuda kerap menjadi beban biaya tambahan bagi orang tua.

Perdebatan memanas saat Dedi menyebut latar belakang ekonomi Aura dan ibunya yang merupakan korban penggusuran di bantaran kali. Ia mengkritik keinginan Aura untuk tetap mengadakan wisuda meskipun berasal dari keluarga kurang mampu. Tanggapan ini kemudian menuai reaksi keras dari masyarakat yang menganggap pernyataan Dedi sebagai bentuk intimidasi terhadap remaja.

Beberapa fakta tambahan yang muncul dari peristiwa ini antara lain:

1. Aura mengaku menyuarakan aspirasi, bukan mengkritik, dan merasa adiknya dirugikan karena tidak bisa ikut wisuda.

2. Dedi akhirnya memperbolehkan wisuda dilakukan secara mandiri oleh siswa, tanpa melibatkan sekolah.

3. Setelah viral, terungkap bahwa Aura pernah bermain dalam sinetron dan berprofesi sebagai model busana.

Peristiwa ini memicu diskusi luas mengenai keadilan pendidikan, hak siswa untuk bersuara, serta cara pejabat publik merespons kritik dari masyarakat, terutama kalangan muda.

Melisa Ahci

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies. Kebijakan Cookie