__temp__ __location__

HARIAN NEGERI, Jakarta - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN-T) Gelombang 114 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja bertajuk “Gerakan Pupuk Mandiri” di Kantor Desa Bulolohe, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Kamis (17/7/2025).

Kegiatan ini mengusung semangat ketahanan pangan dan pencegahan stunting, sesuai dengan tema besar KKN tahun ini.

Program kerja ini merupakan inisiatif dalam memanfaatkan limbah organik rumah tangga dan pertanian menjadi pupuk organik padat (POP) dan pupuk organik cair (POC) melalui pembuatan komposter ember tumpuk.

Agenda ini berlangsung secara partisipatif dan dihadiri langsung oleh Kepala Desa Bulolohe, Abdul Rasyid Nain, serta masyarakat desa yang terdiri dari kelompok tani dan ibu rumah tangga.

Program ini diinisiasikan oleh Afifah Nailah Rauf, mahasiswa KKN yang juga merupakan penanggung jawab kegiatan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN mendapatkan pendampingan dari Abdul Wahid dosen pendamping KKN yang secara aktif memberikan arahan dan dukungan selama proses persiapan hingga pelaksanaan.

Mendorong Kemandirian Pupuk di Tingkat Rumah Tangga

Sebagian besar warga Desa Bulolohe menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan peternakan. Namun, mahalnya harga pupuk kimia dan ketergantungan yang tinggi terhadap produk pabrikan masih menjadi kendala utama dalam peningkatan hasil pertanian. Di sisi lain, limbah dapur seperti sisa sayuran, air cucian beras, dan kotoran ternak melimpah setiap hari namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Inilah yang mendorong mahasiswa KKN menginisiasi Gerakan Pupuk Mandiri, agar masyarakat mampu memproduksi pupuk alami sendiri dengan cara sederhana, murah, dan berkelanjutan.

Edukasi Langsung: Dari Pembuatan hingga Aplikasi Kompos

Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN memandu warga secara langsung untuk memahami dan mempraktikkan langkah-langkah pembuatan komposter ember tumpuk, mulai dari:
- Teknik penyusunan ember bersusun sebagai wadah fermentasi
- Pembuatan lubang drainase dan sirkulasi udara
- Penempatan kran untuk menampung POC (pupuk cair hasil fermentasi)
- Penambahan bahan limbah organik dan aktivator pengurai.

Selain itu, warga juga mendapatkan penjelasan mengenai proses pengomposan, estimasi waktu fermentasi, hingga tanda-tanda kompos siap panen. Peserta diajarkan pula cara membuat larutan pengurai (bioaktivator) dengan komposisi dan konsentrasi tertentu agar proses dekomposisi limbah berjalan optimal.

Antusiasme Warga dan Komitmen Berkelanjutan

Kegiatan ini disambut hangat oleh warga, terutama ibu rumah tangga yang antusias memanfaatkan limbah dapur harian menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kelompok tani pun menunjukkan ketertarikan besar dalam mengintegrasikan komposter ini sebagai bagian dari pengelolaan limbah pertanian dan kebun.

“Saya sangat tertarik untuk mendengarkan penyuluhan pembuatan pupuk mandiri ini karena dulu saya adalah kelompok tani sebelum jadi kepala dusun. Saya sudah paham setelah bertanya tadi terkait bahan pengurai. Karena biasanya saya bikin pupuk kandang dengan campuran EM4. Untuk molase saya baru tahu sekarang," kata Abdul Wahab salah satu warga.

Menuju Desa Tangguh Pangan dan Lingkungan

Dengan dilaksanakannya program Gerakan Pupuk Mandiri, diharapkan warga Desa Bulolohe dapat memproduksi pupuk sendiri, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta turut berkontribusi dalam pengurangan limbah organik rumah tangga.

Gerakan ini menjadi salah satu langkah konkret dalam mewujudkan desa yang mandiri, sehat, dan berkelanjutan, sesuai dengan visi KKN tematik tahun ini: Ketahanan Pangan dan Pencegahan Stunting

Yusuf Wicaksono

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies. Kebijakan Cookie