HARIAN NEGERI - Palu, Semangat kolaborasi pemuda lintas budaya Dampelas dan Kaili dalam menjaga persatuan dan keharmonisan Sulawesi Tengah mengemuka dalam kegiatan Talkshow Kebangsaan dan Bedah Buku yang digelar di Auditorium Wali Kota Palu, Senin (12/01/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan gagasan antara literasi, moderasi beragama, dan pelestarian bahasa daerah sebagai fondasi kebangsaan di tengah keberagaman.
Seminar dihadiri oleh siswa terbaik, aktivis kepemudaan, akademisi, guru, serta tokoh pemuda se-Kota Palu. Kehadiran lintas generasi ini mencerminkan komitmen bersama untuk merawat nilai persatuan melalui pendekatan intelektual dan kearifan budaya lokal Sulawesi Tengah.

Acara secara resmi dibuka oleh Asisten I Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Palu, Rahmat Mustafa, S.STP., M.Si. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Cendekia Society ID (CS.ID) yang berkolaborasi dengan Yayasan Rumah Literasi Ceria dan Komunitas Jalan Jiwa sebagai penggagas kegiatan.
“Pemerintah Kota Palu mengapresiasi kegiatan literasi dan dialog kebangsaan seperti ini. Kolaborasi pemuda dalam merawat moderasi beragama dan budaya lokal sangat penting untuk membangun masyarakat yang berkarakter, toleran, dan berkeadaban,” ujar Rahmat Mustafa.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah bedah dua buku karya pemuda Sulawesi Tengah yang merepresentasikan nilai persatuan dalam keberagaman. Buku Jejak Langkah di Tanah Toraja karya Abdurrahman, S.E. mengangkat praktik moderasi beragama yang hidup dalam masyarakat Toraja yang plural dan harmonis. Buku ini menunjukkan bagaimana nilai toleransi, saling menghormati, dan dialog lintas iman tumbuh dari realitas sosial masyarakat.
Sementara itu, buku Kamus Bergambar Bahasa Dampelas karya Opick Delian Alindra, S.H. menjadi simbol nyata upaya pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya Kaili–Dampelas. Melalui pendekatan visual dan edukatif, buku tersebut diharapkan mampu menjembatani generasi muda agar tetap mengenal, mencintai, dan menggunakan bahasa daerah di tengah arus modernisasi.
Dalam pemaparannya, Opick Delian Alindra, Founder Cendekia Society ID, menegaskan bahwa kekuatan persatuan bangsa Indonesia terletak pada keseimbangan antara spiritualitas dan budaya lokal. Menurutnya, moderasi beragama tidak dapat dipisahkan dari akar budaya masyarakat.
“Menjaga persatuan Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah, harus dimulai dari kesadaran spiritual yang hidup berdampingan dengan budaya tradisional. Ketika agama dan budaya berjalan selaras, di situlah moderasi beragama menemukan maknanya,” tegas Opick.
Sementara itu, Abdurrahman menyampaikan bahwa pengalaman sosial masyarakat multikultural dapat menjadi sumber pembelajaran penting bagi generasi muda dalam merawat toleransi dan persaudaraan. Ia menilai literasi berbasis pengalaman lokal mampu menghadirkan narasi kebangsaan yang lebih membumi dan relevan.
Diskusi semakin kaya dengan kehadiran Moh. Rivaldi, guru MAN 2 Kota Palu sekaligus Agen Moderat Milenial Sulawesi Tengah, yang menekankan peran strategis dunia pendidikan dalam menanamkan nilai moderasi beragama dan cinta budaya lokal sejak dini.
Melalui dialog yang berlangsung hangat dan interaktif, kegiatan ini menegaskan bahwa kolaborasi pemuda Dampelas dan Kaili melalui karya buku bukan sekadar aktivitas literasi, melainkan bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga keharmonisan, persatuan, dan masa depan Sulawesi Tengah yang damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Baca Juga: MK


Komentar