HARIAN NEGERI, Jakarta - Pelajar Islam Indonesia memperingati Momentum Hari Bangkit Nasional ke-79 dengan menggelar syarahan subuh yang diisi langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar PII Amsal di Masjid At-Taqwa, Kamis (7/5/2026).

Dalam tausiyah bertema “Transformasi dan Kepemimpinan Generasi Muda di Era Digital”, Amsal menekankan pentingnya peran generasi muda Islam dalam menghadapi perubahan zaman yang semakin cepat, terutama di tengah derasnya arus teknologi dan informasi digital.

Menurutnya, kebangkitan umat Islam hari ini tidak cukup hanya mengandalkan semangat spiritual semata, melainkan juga membutuhkan kemampuan intelektual, literasi digital, dan kepemimpinan sosial yang kuat.

“Allah SWT menurunkan ayat pertama Al-Qur’an dengan perintah ‘Iqra’. Di masa sekarang, makna membaca bukan hanya sekadar memahami teks, tetapi juga kemampuan menyaring informasi dan menghadapi banjir arus digital,” ujar Amsal.

Ia mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh terjebak menjadi konsumen hoaks maupun perdebatan yang tidak produktif di media sosial. Sebaliknya, generasi muda Islam harus hadir sebagai produsen gagasan dan konten yang membawa nilai kebaikan serta persatuan umat.

“Kita harus menggunakan teknologi sebagai alat dakwah yang cerdas, menghadirkan kesejukan dan kebenaran, bukan justru menjadi alat pemecah belah,” katanya.

Selain tantangan intelektual, Amsal juga menyoroti pentingnya transformasi kesalehan individu menjadi kesalehan sosial. Ia menyebut nilai-nilai keislaman harus diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Mengutip hadis Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, Amsal mengatakan generasi muda Islam harus tampil sebagai pelopor perbaikan sosial di berbagai bidang.

“Menjadi muslim masa kini berarti menjadi seorang muslih, yaitu pribadi yang menghadirkan perbaikan. Baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun lingkungan hidup. Generasi muda Islam tidak cukup hanya menjadi penggiat sosial, tetapi juga harus mampu menjadi pencipta kebijakan sosial,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Amsal juga mengingatkan pentingnya menjaga autentisitas dan spiritualitas di tengah modernitas. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kedekatan dengan Allah SWT.

“Kita boleh menguasai teknologi setinggi langit, namun kening kita harus tetap menyentuh bumi dalam sujud. Jangan sampai gadget di tangan kita mendekatkan yang jauh, tetapi justru menjauhkan kita dari Allah Yang Maha Dekat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh alergi terhadap perubahan zaman. Justru, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan sebagai instrumen perjuangan dan pemberdayaan umat.

“Generasi Islam yang kuat adalah generasi yang mampu menjawab seluruh tantangan zaman dan menghadirkan solusi bagi keumatan,” pungkasnya.