HARIAN NEGERI, Jakarta - Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia, Anindia Larasati, mengingatkan para pelari maraton untuk selalu memantau detak jantung selama berlari guna mengurangi risiko gangguan kesehatan yang dapat terjadi saat aktivitas fisik intensitas tinggi.

Dalam wawancara di Depok, Jawa Barat, Senin, Anindia menjelaskan bahwa sebelum mengikuti maraton, setiap pelari perlu memastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat dan memiliki detak jantung yang normal. Pemantauan denyut jantung selama berlari juga penting dilakukan untuk mengetahui respons tubuh terhadap aktivitas fisik yang dijalani.

Menurutnya, apabila detak jantung meningkat terlalu tinggi atau dirasakan tidak normal, pelari sebaiknya menghentikan lari untuk sementara dan beralih ke aktivitas berjalan hingga denyut jantung kembali menurun sebelum melanjutkan olahraga.

Ia juga menegaskan bahwa pelari harus segera menghentikan aktivitas apabila mengalami gejala seperti sesak napas, nyeri dada, atau kram otot, karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda tubuh mengalami kelelahan atau gangguan kesehatan yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

Anindia menambahkan bahwa persiapan mengikuti maraton tidak dapat dilakukan secara instan. Latihan perlu disesuaikan dengan target jarak tempuh dan tingkat kebugaran masing-masing individu. Idealnya, persiapan dilakukan sekitar 12 hingga 16 minggu sebelum pelaksanaan lomba agar tubuh memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi.

Selain latihan fisik, calon peserta maraton juga perlu memahami kondisi kesehatannya secara menyeluruh. Pelari yang memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung harus memastikan kondisi tersebut terkontrol dengan baik sebelum mengikuti lomba.

Menurut Anindia, beberapa obat yang dikonsumsi penderita penyakit kronis dapat memengaruhi kadar gula darah maupun respons detak jantung selama aktivitas fisik berat. Karena itu, konsultasi dengan dokter sebelum mengikuti maraton sangat dianjurkan bagi pelari yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga hidrasi selama perlombaan. Pelari disarankan mengonsumsi cairan secara berkala, termasuk ketika menempuh setiap sekitar 2,5 kilometer, guna mencegah dehidrasi yang dapat menurunkan performa dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Setelah menyelesaikan maraton, pelari dianjurkan melakukan pendinginan dan peregangan otot secara menyeluruh untuk membantu pemulihan tubuh serta mengurangi risiko kram dan cedera pascalomba.

Dengan persiapan yang matang, pemantauan kondisi tubuh selama berlari, serta penerapan strategi hidrasi yang tepat, pelari dapat menjalani maraton dengan lebih aman dan optimal.