HARIAN NEGERI - Palu, Di tengah belum adanya kepastian hukum terkait pemberlakuan muatan lokal (mulok) Bahasa Dampelas di wilayah Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, Cendekia Society ID (CS.ID) terus menunjukkan konsistensinya dalam menggaungkan kearifan lokal melalui literasi budaya. Salah satu ikhtiar nyata tersebut diwujudkan melalui pengenalan Kamus Bergambar Bahasa Dampelas dalam kegiatan Talkshow Kebangsaan dan Bedah Buku di Auditorium Wali Kota Palu, Senin (12/01/2026).
Kegiatan yang dihadiri perwakilan siswa terbaik, aktivis, akademisi, guru, serta tokoh pemuda se-Kota Palu ini menjadi ruang diskusi penting tentang moderasi beragama sekaligus tantangan pelestarian bahasa daerah yang hingga kini masih menghadapi kendala regulasi.

Founder Cendekia Society ID, Opick Delian Alindra, S.H., menjelaskan bahwa Kamus Bergambar Bahasa Dampelas bukan sekadar karya literasi, melainkan respon atas kegelisahan di lapangan terkait minimnya perhatian struktural terhadap bahasa ibu masyarakat Dampelas.
“Sampai hari ini belum ada kepastian hukum berupa regulasi atau petunjuk teknis (juknis) yang mengatur pemberlakuan mata pelajaran muatan lokal Bahasa Dampelas, khususnya di Kecamatan Dampelas, Donggala,” ungkap Opick.
Berdasarkan sejumlah studi kasus yang ditemukan oleh tim Cendekia Society ID, beberapa sekolah dasar di wilayah tersebut mengalami kebingungan dalam mengimplementasikan pembelajaran Bahasa Dampelas.
Opik menjelaskan bahwa hal ini disebabkan belum tersedianya juknis kurikulum yang jelas, sementara kebutuhan siswa-siswi untuk mempelajari bahasa daerahnya sendiri dinilai sangat penting sebagai bagian dari identitas dan pembentukan karakter.
“Di satu sisi, sekolah dan masyarakat menyadari pentingnya Bahasa Dampelas untuk generasi muda. Namun di sisi lain, mereka belum mendapatkan kepastian kebijakan dari pemerintah daerah, sehingga proses pembelajaran tidak bisa berjalan optimal,” lanjutnya.
Opick Delian juga menyampaikan bahwa upaya diplomasi dan koordinasi telah terus dilakukan dengan berbagai pihak. Bahkan, menurutnya, perhatian dari Bupati Donggala dan Ketua DPRD Donggala sudah didapatkan. Namun demikian, implementasi kebijakan masih menghadapi kendala di tingkat teknis.
“Informasi terakhir yang kami terima, Dinas Pendidikan menyampaikan bahwa kendala utama masih berada pada keterbatasan anggaran, sehingga belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh,” jelas Opick.
Melalui Kamus Bergambar Bahasa Dampelas, Cendekia Society ID berharap dapat menjadi jembatan awal bagi dunia pendidikan dan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada pelestarian bahasa dan budaya lokal. Inisiatif ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga bahasa ibu bukan hanya tanggung jawab komunitas, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Cendekia Society ID bersama tim yang juga hadir di kegiatan yakni Aidil Fitrah, S.Mat dan Muslimin selaku pemuda dampelas membersamai niat founder yang menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu ini, sembari membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan masyarakat demi memastikan Bahasa Dampelas tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Baca Juga: BUMN


Komentar